![]() |
| Monumen Habibie-Ainun di kota Pare-Pare |
1.
belum lama tapi tidak akan lama lagi,
kedua
kakiku berdebat tentang pesona cappa ujung.
sebuah
lontara suppa, kutulis lewat kata-kata meninggalkan
tanpa
harus dini melupakan Bandar madaninya tumbuh diantara semak dan belukar
selamat
tinggal.
2.
aku belum melihat tanamanku tumbuh,
pun
bunga yang engkau janjikan padaku telah kau ganti
dengan
pura makkenna linro langkana PAREPARE.
depan
rumah, pun belum menyerap banyak udara.
juga,
aku belum menyelesaikan dongeng “entah berantah” pada sekumpulan anak-anak.
3.
kutitip
salam pada pelabuhan yang sempat menghentikan
seseorang
berlayar di kedua bola mataku, di sepasang samudera bening tak berkarang.
selamat
tinggal pantai lumpue, mattirotasi, dan torangeng.
surga
manusia sepertiku telah tertambat jauh lebih lama di tempat ini,
ketika
raga dan jiwaku mengabdi di tempat ini.
4.
semenjak
di sini , aku merasakan kaki-kakiku kokoh penuh yakin.
jika
semua jalan yang kususuri menjelma benang,
aku
gunakan menjahit semua jalan yang pernah kulalui.
jalan
yang pernah membuat kakiku ada—berbahagilah aku.
tanpa
sebait apapun, aku sulam semuanya menjadi kenangan di kepalaku.
beserta
rindu diujung sukmaku ketika mengingat puing-puingnya.
5.
dulu,
waktu belum sekecil sekarang.
atau
belum se-setia Habibie dan Ainun, aku menemukan kau belum lama ini.
menungguku
tepat di pelabuhan Nusantara, melambaikan tangan perihal—dulu
ketika
tiba—meninggalkan, dan saat kembali menemui Bandar madani
tepat
ketika salah satu kelopak matamu terbuka, membiakan kita kembali lalu ikhlas.
6.
tapi
menjelangku kembali,
kaki-kakiku
rapuh tidak sekuat dulu ketika datang.
tidak
sebahagia saat melihatmu menunggu di bibir pantai.
tiba-tiba
saja gentar setiap kali mendengar nama kota kain penghias
Seperti
susunan benang di kepalaku kusut dan lupa jalan untuk pulang
7.
aku
membayangkan bagaimana musim berpisah.
bagaimana
air mata Habibie basah di kedua pipi Ainun yang tersenyum simpul,
menjelang
kematian berpisah.
kemarau
melambai pergi dan memberi jalan kepada hujan,
setiap
tetes hujan adalah air mata kemarau.
8.
kemarau
adalah aku saat hendak melupakanmu dengan hati yang hati-hati.
kelak
nanti aku pulang, aku tidak ingin melambai,
kepada
siapa-siapa janjiku untuk kembali.
aku
tidak sedang berkunjung kan?
aku
ingin menetap dan menatap lebih lama.
di
sini, di tanah abadi.
9.
sehabis
hujan, aku diperdengarkan tentang lagu lovarian.
jadikan
ini, perpisahan yang termanis—yang indah dalam hidupmu, sepanjang waktu
semua
berakhir, tanpa dendam dalam hati—maafkan semua salahku,
yang
mungkin menyakitimu.
**
hujan
berhenti—berpindah di kedua bola mataku.
sungguh,
sebaik-baiknya perpisahan adalah yang kita katakan.
10.
titik-titik
pemberhentian akan menggugat koma, walau hanya sejenak.
terlepas
dari tulus tidaknya hatiku menaruh dua kakinya
di
pelataran jalan-jalan kota, belantara hutan-taman kota,
di
sepanjang penghubung masa dari masa, hingga tolak asa.
sungguh,
alangkah indahnya negeri saat kita tak lagi ada di dalamnya.
11.
jangan
menyebut sementara jika yang fana adalah kita,
masa
yang singkat ini sungguh yang menyiksa.
mana
bisa aku menanggung pisah, jika tubuhku tertawan di kota yang menawan.
Perpisahan
adalah titik pangkal rindu,
rindu
kita dan teduh kota.
(Makassar 2015)
