Rabu, 09 Desember 2015

Semenanjung Kota dalam Mata

*Anggraini Pratami Putri


Monumen Habibie-Ainun di kota Pare-Pare

1.
belum lama tapi tidak akan lama lagi,
kedua kakiku berdebat tentang pesona cappa ujung.
sebuah lontara suppa, kutulis lewat kata-kata meninggalkan
tanpa harus dini melupakan Bandar madaninya tumbuh diantara semak dan belukar
selamat tinggal.

2.

aku belum melihat tanamanku tumbuh,
pun bunga yang engkau janjikan padaku telah kau ganti
dengan pura makkenna linro langkana PAREPARE.
depan rumah, pun belum menyerap banyak udara.
juga, aku belum menyelesaikan dongeng “entah berantah” pada sekumpulan anak-anak.

3.
kutitip salam pada pelabuhan yang sempat menghentikan
seseorang berlayar di kedua bola mataku, di sepasang samudera bening tak berkarang.
selamat tinggal pantai lumpue, mattirotasi, dan torangeng.
surga manusia sepertiku telah tertambat jauh lebih lama di tempat ini,
ketika raga dan jiwaku mengabdi di tempat ini.

4.
semenjak di sini , aku merasakan kaki-kakiku kokoh penuh yakin.
jika semua jalan yang kususuri menjelma benang,
aku gunakan menjahit semua jalan yang pernah kulalui.
jalan yang pernah membuat kakiku ada—berbahagilah aku.
tanpa sebait apapun, aku sulam semuanya menjadi kenangan di kepalaku.
beserta rindu diujung sukmaku ketika mengingat puing-puingnya.

5.
dulu, waktu belum sekecil sekarang.
atau belum se-setia Habibie dan Ainun, aku menemukan kau belum lama ini.
menungguku tepat di pelabuhan Nusantara, melambaikan tangan perihal—dulu
ketika tiba—meninggalkan, dan saat kembali menemui Bandar madani
tepat ketika salah satu kelopak matamu terbuka, membiakan kita kembali lalu ikhlas.

6.
tapi menjelangku kembali,
kaki-kakiku rapuh tidak sekuat dulu ketika datang.
tidak sebahagia saat melihatmu menunggu di bibir pantai.
tiba-tiba saja gentar setiap kali mendengar nama kota kain penghias
Seperti susunan benang di kepalaku kusut dan lupa jalan untuk pulang

7.
aku membayangkan bagaimana musim berpisah.
bagaimana air mata Habibie basah di kedua pipi Ainun yang tersenyum simpul,
menjelang kematian berpisah.
kemarau melambai pergi dan memberi jalan kepada hujan,
setiap tetes hujan adalah air mata kemarau.

8.
kemarau adalah aku saat hendak melupakanmu dengan hati yang hati-hati.
kelak nanti aku pulang, aku tidak ingin melambai,
kepada siapa-siapa janjiku untuk kembali.
aku tidak sedang berkunjung kan?
aku ingin menetap dan menatap lebih lama.
di sini, di tanah abadi.

9.
sehabis hujan, aku diperdengarkan tentang lagu lovarian.
jadikan ini, perpisahan yang termanis—yang indah dalam hidupmu, sepanjang waktu
semua berakhir, tanpa dendam dalam hati—maafkan semua salahku,
yang mungkin menyakitimu.

**
hujan berhenti—berpindah di kedua bola mataku.
sungguh, sebaik-baiknya perpisahan adalah yang kita katakan.

10.
titik-titik pemberhentian akan menggugat koma, walau hanya sejenak.
terlepas dari tulus tidaknya hatiku menaruh dua kakinya
di pelataran jalan-jalan kota, belantara hutan-taman kota,
di sepanjang penghubung masa dari masa, hingga tolak asa.
sungguh, alangkah indahnya negeri saat kita tak lagi ada di dalamnya.

11.
jangan menyebut sementara jika yang fana adalah kita,
masa yang singkat ini sungguh yang menyiksa.
mana bisa aku menanggung pisah, jika tubuhku tertawan di kota yang menawan.
Perpisahan adalah titik pangkal rindu,
rindu kita dan teduh kota.

(Makassar 2015)
Share: