Saya duduk dalam sebuah kelas, kelas yang panas lebih
tepatnya. untuk yang kedua kalinya (Setelah belajar sastra; prosa 1
sebelumnya,) kembali bertemu dengan prosa 2. Sebagai salah satu kajian dalam
sastra, tentu prosa menjadi sangat penting untuk dipelajari (walau terkadang,
banyak mahasiswa yang belajar tapi tak mengetahui, apa lagi memahami ataupun
ada beberapa yang pura-pura tak ingin tahu).
Tentang novel scarlet letter, saya baru mendengar judul
novel itu. Kesannya pun tergolong romantis, pada mulanya, dikepala saya
terlintas tentang kisah-kisah asmara yang kompleks dan dinamis, bernama Scarlet
(walaupun hati saya bertanya-tanya, nama itu adalah untuk perempuan atau laki)
dengan suratnya yang teruntuk buat seseorang yang dia rindukan. Tapi, ternyata saya
salah--untuk menilai sesuatu tidak selalu tentang satu jalan, karena terkadang
ada jalan yang membuat kita lupa untuk kembali pulang ke rumah (benar).
Saya mengerjakan paper ini setelah beberapa minggu yang
lalu berusaha memahami maksud dari ceritanya (benang merahnya). Awal
masalahnya, masalahnya dan penyelesaian masalahnya.
Di awal novel, ada bagian "the-custom house",
menurut saya ini adalah salah satu kata pengantar yang sangat unik dan keren
(selain kata-kata pengantar dalam buku puisi). Banyak yang mempertanyakan apa
maksud dari Nathaniel Hawthorne menulis itu, padahal secara cerita, sama sekali
tak berkaitan langsung. Kata "the-custom house" sebenarnya menjadi
pertanyaan "menunjukkan/menjelaskan apa?". Secara umum, berdasarkan
analisis wacana saya, "the-custom house" merupakan bagian dari novel
(sebagai pengantar cerita) yang beralih fungsi menjadi "curhat"
penulis tentang sejarah, pengalaman, dan realitas yang terjadi di sebuah tempat
bernama Salem, perihal orang-orang yang bekerja di sebuah tempat di mana
pemerintah Paman Sam ditegakkan.
"in breeze or calm, the banner of the republic; but
with the thirteen stripes turned vertically, instead of horizontally, and thus
indicating that a civil, and not a military post of Uncle of Sam's government,
is here established". -halaman 3
Saya mengutip kutipan yang berada di halaman 3 yang secara
tersirat, "the-custom house" menunjukkan sebuah bangunan formal yang
tertuju pada gedung-gedung pemerintahan di Amerika.
"the pavement round about the above described
odifice--which we may as well name at once as the custom-house.." -halaman 03
Kata "aku" di bagian "the-custom house"
agak gamang menunjukkan bahwa "aku" adalah Hester Pryne itu sendiri.
Namun, setelah dibaca berulang-ulang, akan ditemukan bahwa "the-custom
house" sengaja ditulis untuk menggiring kita untuk mengintip, bahwa dengan
huruf yang disulam berwarna merah tua, bukan sebuah fiksi, melainkan gambaran
tua dari lingkungan tempat tersebut. Penulis menjelaskan secara detail, bagaimana
menjelaskan kepada pembaca, bagaimana ide itu dimulai.
**
Jika setelah membaca “the-custom house”, diteruskan ke
bagian pertama, maka akan kita temukan sebuah kontradiksi yang kental dari
kedua bagian ini. Saya belum menyadari, hal-hal apa saja yang hendak
disampaikan oleh “real author” dibagian ini, ataupun “fictive author”. Sungguh,
bagian pertama “the prison-door” membuat saya bertanya-tanya dan berfikir
dengan hati-hati.
Pintu penjara dalam bagian ini bersetting di boston,
tepatnya di desa kecil bernama Cornhill (atau dalam bahasa Indonesia, secara
literal berarti bukit/lembah jagung), sebuah tempat dimana dihuni oleh
orang-orang menengah kebawah (puritan), yang mungkin saja kebanyakan berprofesi
sebagai petani (petani jagung). “the prison-door” berkemungkinan menyimbolkan
sebuah kekalahan, ketertolakan, atau semacam lingkungan kumuh yang lekas akan
disimbolkan, kemudian dikaitkan lagi dengan perilaku atau tindakan “asusila”
yang dilakukan oleh Hester Pryne. Sesuatu yang jauh dari kata baik, cacian,
kotor atau semacamnya.
Gaya bahasa yang tidak terlalu detail dan jelas, tentu
ditambah lagi dengan alur maju-mundur-maju, membuat inti dari bagian pertama
masih terlampau gamang dan sukar disimpulkan.
**
Adakah atau apakah kaitannya pintu penjara dengan
lapangan? Sungguh, antara bagian pertama dan kedua semestinya
terselip semacam “jembatan” untuk menghubungkan alur yang mundu, lalu tiba-tiba
saja langsung berada jauh kedepan. Itu yang terasa setelah masuk dalam bagian
kedua, novel The Scarlet Letter.
Dalam bahasa Inggris, bagian kedua diberi nama “The
Market-Place” sedangkan dalam bahasa Indonesia “Lapangan”. Loh kok jauh? Secara
harfiah, The Market-Place berarti tempat pasar, atau lokasi untuk memasarkan
sesuatu. Jika dilihat secara strukturalisme, maka akan dijumpaia arti yang jauh
dari kata relasitas dengan yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia.
Menurut saya, “The Market-Place” memiliki arti jika
disaksikan dari sudut pandang lain, yaitu pusat keramaian atau tempat-tempat
yang bersifat umum dan memamerkan banyak aktivitas (di mana pasar pada
umumnya). Secara alur, dibagian kedua ini menceritakan langsung kondisi sosial
masyarakat yang saat itu sedang berlangsungnya hukuman “Scarlet” yang dialami
oleh Pryne. Dialog antara orang-orang yang menyaksikan langsung Hester
mengenakan pakaian yang terbordir huruf “A” lebih membuat adegan “pengadilan”
dari gereja ini begitu jelas dan nyata. Fictive narrator, dalam hal ini,
penulis sendiri (Nathaniel Hawthorne) terlihat piawai memainkan kondisi, momen
serta cibiran-cibiran puritanisme terhadap pendosa yang teradili.
Coba analisa “kepuasan hati” salah satu masyarakat puritan
ketika menyaksikan langsung Pryne di “The Market-House” yang terdapat di
halaman 53 buku terjemahan Indonesia
… “Ah, tapi,” terdengar suara seorang wanita muda yang
lebih lembut, menggendong anaknya, “biarkanlah ia menutupi itu sesukanya, tanda
itu akan tetap ada di hatinya.” –Halaman 53
Jika dalam novel bahasa Inggrisnya tersurat di halaman
47;
…
“Ah, but,”interposed, more softly, a young wife, holding a
child by the hand, “let her cover the mark as she will, the pang of it will be
always in her heart”-page 47
Perpindahan (narrative transmission) setiap plot tersiar
begitu enak dibaca dan lebih mudah digambarkan di dalam kepala dan fikiran.
Berbeda dengan bagian pertama yang terkesan “pelit” menarasikan hal-hal jelas
nan penting, oleh karena itu juga, kita bisa melihat dari jumlah teks atau
halaman, sangat sedikit dan pelit bukan?
***
Berlanjut dengan plot yang terus menerus mengalami
perkembangan, namun tetap pada latar belakang (Setting) tempat yang
sama—lapangan. Pada bagian ketiga dalam novel in—the recognize.
Dengan mengkaji gaya bertutur dari
narrator (real/fictive narrator), dapat disadari bahwa penambahan massa atau
beban dalam cerita dapat dengan mudah diketahui. Dapat dikatakan bahwa,
permasalahan akan timbul seiring usaha-usaha untuk menyelesaikan masalah
sebelumnya. The Recognize dalam hal ini lebih menitikberatkan kepada penambahan
karakter baru (Dalam hal ini, suami Hester Pryne yang telah tiba di Boston),
dengan plot yang tentunya mengalami perkembangan secara men-dinamis, di mana
“pengenalan” dalam hal ini lebih kepada narrator yang hendak masuk atau ikut
kedalam alur cerita, lalu menyesuaikan diri dengan karakter-karakter lain yang
terdapat di dalam. Ibarat jika dalam dunia satwa—adaptasi terhadap lingkungan
agar tetap mampu bertahan dalam suatu populasi hewan.
Ini dapat dengan mudah ditemukan dalam paragrap pertama
pada bagian ketiga ini, dengan pengenalan tentang kondisi dan keramaian yang
tiba-tiba saja (yang dirasakan oleh Roger) sesaat setelah tiba. Apalagi
diperkuat dengan adanya dialog dengan orang-orang yang ia tanyai secara
langsung.
“then, touching the shoulder of a townsman who stood next
to him, he addressed him, in a formal and courteous manner; “I pray you, good
sir,” said he, ”who is the woman?”—and wherefore is she here set up to public
shame?”
Percakapan dan lalu pertanyaan ini hanyalah sebuah
representasi “kekecewaaan” dari seorang Roger kepada Hester (suami kepada
istrinya). Pertanyaan ini justru menjadi awal perasaan yang dulunya merasa
cinta kini hendak berubah wujud menjadi benci dan dendam, dendam kepada
laki-laki yang menjadi lawan zinah dari istrinya. Pandangan mereka sebenarnya bertemu secara tidak
bersama-sama. Mata Hester lah yang lebih dahulu melihat kehadiran Roger yang
terselip diantara segerombolan masyarakat puritan yang hendak menyaksikan
keputusan gereja terhadap pelestarian sanksi sosial yang tentunya mencederai
moral dan aturan.
**
Pengenalan yang awalnya muncul kini berkembangan dan
berubah menjadi percakapan. Pada bagian keempat ini, merupakan bentuk dari
kejenuhan plot yang terdapat pada bagian sebelumnya. Kesaksian terhadap
perempuan antara Hester dan Roger hanya diketahui pembaca yang budiman bahwa
mereka adalah sepasang suami-istri.
Tentunya, “the interview” dalam hal ini perbincangan
langsung telah ditemukan pada bab ini. Taka da lagi system yang malu-malu atau
perasaan satu sama lain yang tidak enak atau semacamnya (mungkin ada, secara
psikologi—tapi tak disuratkan secara gambling dalam wacana). Bagian empat ini
juga menjadi keabsahan tersendiri terhadap “aku/saya” yang bercerita di dalam,
permainan karakter, bagaimana emosi masing-masing karakter berkembangan, hingga
melahirkan hal-hal diluar penerkaan dari pembaca.
Secara umum, percakapan pada bab ini adalah kesempurnaan
terhadap perkenalan yang terkisahkan sebelumnya. Berbicara tentang hukuman, jawaban yang pas untuk dijadikan
obat penyembuh sementara dalam menjalaninya adalah menerima. Tentu, sikap
menerima tidak selalu tepat mengisi kekosongan. Kadang kala, menerima tidak
selalu sesuai dengan pemenuhan. Apapun itu, termasuk sanksi (hukuman) yang
sifatnya meng-abadi.
Dalam bagian lima, Hester At Her Needle memulai kehidupan normalnya dari
penjara setelah diantar oleh keputusan gereja dan masyarakat puritan. Ada hal
yang mencenangkan ketika saya membaca bagian ini secara berulang-ulang. Hal ini
mungkin menjelma sebagai penyiksaan yang lebih kejam pada saat kedua kakinya
melangkah keluar dari penjara, mencoba berbaur dengan masyarakat, dari pada
prosesi yang pernah ia jalani sebelumnya, saat Hester menjadi objek penghinaan
hingga simbolisasi perbuatan asusila.
Ia akan memulai kehidupan sehari-harinya yang normal, dan
ia harus mampu mengatasi segala hal yang terjadi bila ia tidak ingin tenggelam
di dalamnya.
Menurut pengalaman saya, atau pengamatan saya. Saya
sejujurnya kurang sepakat dengan paragrap ini. Kenapa? Setelah membacanya
berulang-ulang, menahan nafas lama-lama hingga melawan rasa ngantuk yang tajam,
saya menemukan mutiara bahwa setelah Hester dikatakan tenggelam oleh Narrator, ia justru menemukan sebuah hidup
yang selayaknya normal (kembali) dan bahkan lebih dari itu, kehidupannya
berubah seiring kemampuannya yang dikenal “indah” itu menjadi bagian yang
dianggap suci oleh sebagian masyarakat melalui berbagai model sulaman dan
jahitan khas tangan pendosanya. Sungguh Tuhan sangat adil dibagian ini, beda
ketika membaca bagian sebelumnya..dan tak tahu bagaimana lagi selanjutnya.
Lanjut…
**
Sebenarnya (Dalam novel), Hester sendiri merasa kesepian,
tanpa teman menjalani lanjutan
kehidupan (hukuman). Hebatnya, ia tidak terlalu menganggapnya sebagai sebuah
akhir dari kematian, ia memiliki sebuah keterampilan yang mampu mencukupi
kebutuhan hidupnya, yang juga sedikit demi sedikit mampu membuatnya lupa dengan
hukuman yang ia jalani. Gaya dari sulaman Hester mempengaruhi gaya berpakaian
orang-orang setempat. Aktivitas ini berlangsung secara bertahap, secara tidak
sadar dan langsung, Hester lah yang menentukan gaya di kota tersebut.
“By degrees, not
very slowly, her handiwork became what would now be termed the fashion. Whether
from commiseration for a woman of so miserable a destiny; or from the morbid
curiosity that gives a fictitious value even to common or worthless things; or
by whatever other intangible circumstance was then, as now, sufficient to
bestow, on some persons, what other might seek in vain…” halaman 75
Dapat dikatakan bahwa, sungguh berat yang hester dapatkan
dari hinaan hingga cacian (termasuk anak dalam perutnya), namun disisi lain
terlalu besar peran Hester memasangkan sesuatu di tempat itu, buah hasil dari
tangan-tangan yang di mata masyarakat setempat adalah pendosa. Sungguh, bahwa sungguh hinaan itu mengalir bagai air yang
hendak menemukan bagian yang paling rendah. Dan semua orang tahu itu—seolah-olah,
dedaunan setiap hari berbisik tentang masa lalunya—tiupan angin musim panas
bergumam tentang kisah itu—hembusan angina musim dingin meneriakkannya!
**
Kesepian itu akhirnya berubah lain, bahkan bisa terlalu
ramai dan terlampau sepi. Anak yang dikandung Hester pun muncul dengan maksud
merubah pandangan tentang sesuatu yang bernunsa suci pun dapat dihasilkan oleh
hal yang bercita-rasa asusila hingga dosa yang besar. Saat Hester melihat
pertumbuhan bayinya (pearl), kecantikan, kecerdasannya pun memancar seperti
matahari pagi yang cukup hangat. Menghangatkan scarlet yang tertanam dalam di
dadanya yang masih minor diketahui oleh seorang bayi. Ia pun menamai anaknya
dengan sebutan (mutiara), sebagai satu-satunya yang berharga dan menjadi harta
yang tanpa bernilai sesuatu.
Di bagian ini, Tuhan memposisikan dirinya sangat baik,
kenapa? Ternyata, salah satu konsekuensi dari dosa adalah keberhargaan, dibalut
kecerdasana dan kecantikan. Namun, seiring tumbuh kembangnya, Pearl pun
disimbolkan sebagai gabungan antara bunga liar yang cantik, bayi miskin dan
sekaligus seorang putri. Dari dalam dirinya, ada semacam semangat serta gairah
yang dirasa tidak pernah hilang. Di sini, bagaimana status Hester yang berubah
menjadi seorang ibu perlahan melatih dirinya baik secara psikis dan praksis
untuk kuat dan selalu mampu bertahan dalam setiap posisi dan kondisi yang ia
jalani, termasuk ketika ia menggendong anaknya, kadangkala setiap saat merasa
khawatir dengan tempat tumbuh-kembang pearl, hingga yang paling menjadi
ketakutan seorang ibu adalah ketika sang anak bertanya siapa kah laki-laki yang
menemani Ibunya, yang membuatnya diri dan jiwanya berada di tempat asing ini
(dunia dan tubuh).
Fenomena ketika Hester menggendong Pearl, memeluknya dengan
erat tepat di dadanya, mencium wajahnya, untuk memastikan bahwa Pearl bukan
sebatas khayalan semata ataupun buah dosa dari hati (buah hati dari dosanya).
Ketika wajah Pearl tersenyum hingga tertawa, terdengar seperti music, suara itu
kadang membuat Hester lebih merasa ragu dari yang sebelumnya. Tampaknya, ada refleksi kejahatan yang ada dalam diri
putrinya itu. Semua perasaan dan nafsu yang diwarisi oleh Pearl adalah isi dari
jiwa Hester.
**
Berlatar belakang di rumah gubernur Berllingham, Hester dengan gagahnya berani mengunjungi
rumah salah satu pejabat penting di tempat ia berdosa, ia
mendapatkan kembali
“hukuman” baru setelah keputusan “pengadilan” masyarakat setempat yang hendak
memisakan dirinya dengan Pearl, sang mutiaranya. Hester memberanikan dirinya
untuk menuntut haknya sebagai Ibu yang bertanggungjawab, maksud saya Ibu yang
bertanggungjawab dengan dosanya. Sungguh, ia Ibu yang amat sangat jarang.
Penggambaran tentang rumah gubernur mencerminkan kemurnian
ornament-ornamen puritan di masa itu yang dikenal sangat kental dan masih
mengusung tentang kemurnian dalam ajaran-ajaran, mengusung
kebudayaan-kebudayaan leluhur dan tentu tak akan jauh dari karakteristik
kekuatan gereja pada saat itu. Sebuah potret yang menceritakan sebuah kejayaan Berllingham yang terdahulu. Fokus dalam bab ini secara gamblang ditujukan kepada Pearl.
Mungkin saja, situasi rumah Gubernur itu adalah sebuah hal yang
baru—kebahagiaan yang baru. Kondisi yang tak mampu mengendalikan diri,
mengikuti hal-hal yang tak semestinya baru, hingga melupakan pengawasan ibunya
yang “khawatir” dengan senyum Pearl yang setiap harinya berubah-ubah, kadang
senyum itu adalah bukti tentang sangat dan paling dari suasana hati anak
perempuan se polos Pearl.
**
Jika membaca baik-baik di bagian ini, ada paragrap yang
menurut saya Narrator merasa khawatir kepada pembaca,
tepatnya paragrap kedua, sang Narrator khawatir mengenai sesosok peran
yang telah memegang andil nan penting dalam scenario hukuman yang dialami oleh
Hester. Walau saya sedikit memberikan apresiasi kepada Narrator dengan menyelipkan kata
“pembelaan” lewat kata ‘ingat’. Di bagian ini, saya merasa bukan lagi membaca
sebuah cerita, melainkan membaca hasil dari sebuah cerita, maksudnya serupa
ketika kita mendengar atau cerita dari teman yang telah mengetahui ceritanya
secara menyeluruh—dan mengingatkan kembali dengan beberapa potongan-potongan
kalimat yang tak ‘semestinya’ kita lupakan. Iya kan?
Saya sungguh tergugah melihat pembelaan Hester untuk
anaknya, Pearl. Ia tak hanya sebatas membela, tapi tetap membela, tanpa dendam
sedikit pun dalam hati, ketika sesekali berfikir tentang masa depan buah
dosanya, maksud saya, bunga hatinya. Ketika berniat mengajukan hal baik tentang
status perpindah tanganan anaknya, ia merasa dengan hadirnya Pearl, tidak hanya
memberinya pelajaran tentang akibat dari dosa terdahulunya, Hester berdalih
bahwa Tuhan lah yang menitipkan Pearl kepadanya, menghukum dirinya dengan
mengubah dan menambah tanggungjawabnya sebagai Ibu yang “mesti” kuat menjaga
dan menghapus segala kenangan yang tertancap sakit dan dalam di dadanya. Tentu,
bukan sesuatu yang mudah bagi perempuan, kecuali perempuan itu memang memilih
mati untuk menuntaskannya.
**
“Tuhan telah memberiku anak ini, dia memberikan Pearl
sebagai pengganti dari segala sesuatu yang telah diambil dariku. Anak ini
adalah kebahagiaanku! Dia adalah penderitaanku! Pearl membuatku tetap hidup!
Pearl menghukumku juga! Tidakkah kalian lihat, dia adalah huruf scarlet, dia
adalah lambang dari dosaku! Kalian tidak akan mengambilnya dariku! Aku akan
mati!”
Jujur, saya memaksa diri saya untuk tidak merasa bahagia
membaca buku, perasaan saya justru meyakinkan diri saya untuk menangis setelah
membaca ini berulang-ulang. Sungguh, jika anak itu (pearl) adalah simbol dari
dosanya, mengapa Hester tak mau menghapus dosanya dengan cara membunuh Pearl
atau minimal membuangnya? Saya bertanya kembali; apakah ada Ibu setega itu,
memurnikan dirinya dengan jalan menghilangkan nyawa buah dosanya, selain di
Negara kita?
Dari bagian ini jugalah, sang ayah terlarang Pearl memiliki
peran yang cukup sentral terkait keberlangsungan hidup Pearl. Adanya hubungan
suci antara Ibu dan anak masih menjadi rahasia, “Tuhan di Surga, pencipta alam
semesta juga mengetahui perbuatan dosa yang telah dua orang lakukan, namun
tidak berarti mereka harus kehilangan cinta. Anak ini berasal dari kesalahan
Ayahnya dan kenistaan Ibunya, namun ia juga berasal dari Tuhan”
Ada keajaiban dari Tuhan atas kelahiran Pearl; membuat jiwa
sang Ibu, Hester Pryne dapat tetap hidup dan lalu mencegahnya terperosok dalam
lembah kegelapan yang lebih dalam.
**
Hanya karena profesi, deraja seseorang setingakat lebih
tinggi di atas masyarakat umum. Itulah fakta yang terjadi dalam koloni puritan,
misalnya saja, dalam hal ini Roger, yang tak lain dan bukan adalah suami Hester
Pryne yang berganti nama. Dokter menjadi profesi “penolong” Roger agar lebih
mudah diterima langsung dalam sosial kemasyarakatan puritan. Selain cerdas dalam dunia medis, Roger pun mulai merambah
keingintahuannya tentang siapa yang menjadi lawan zinah, istrinya. Secara tidak
langsung, ia diperkenalkan oleh Arthur dimmesdale, dan lalu mencoba melebur
diri ke lembah kehiduapan agamawan tersebut dengan berbagai klausul serta
alasan perihal kesehatan yang dialami oleh sang pendeta muda seiring waktu, tidak
baik. Oh iya, lewat pergaulang dan profesi itu, Roger secara tidak langsung
mengetahui hal yang rahasia dari hidup Arthur melalui percakapan demi
percakapan yang ia bangun dengan “sengaja”.
Bagian ini mengajarkan saya tentang menilai sesuatu dari sifat
sesuatu yang hendak disimbolkan dan yang dimaksudkan. Misalnya saja Lintah.
Salah satu hewan yang membuat saya takjub dan juga tak menyangka. Ia hanya
melekat, diam dan jarang disadari keberadaannya; tapi diam-diam dan
ketidaksadaran itu membuatnya begitu bebas dan jahat mencuri darah dari bagian
tubuh yang ia hinggapi dengan kemunafikannya. Saya bertanya, apakah suami
Hestre Pryne itu adalah lintah untuk tubuh spiritual dari Arthur dimmesdale?
Semoga kita lekas menemukan jawabannya diakhir tulisan ini.
**
Apa yang kau pahami tentang
isi hati? Saya teringat beberapa penggalang puisi teman jauh saya di kampus
sastra yang lain. Tidak ada yang mesti harus dipahami jika diperhadapkan dengan
isi hati. Tentu, seperti yang dikatakan oleh Harper Lee, dalam penggalang awal
bukunya Go Set A Watchman;
“Kau tidak akan pernah memahami
seseorang (hati) hingga kau melihat sesuatu dari sudut pandangnya…hingga kau
menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya”
Semua yang lekas dirasakan oleh orang-orang setempat justru
menyiksa fisik dan hati Arthur Dimmesdale, sudah menjadi kebiasaan seorang
pendeta untuk mencintai kebenaran, dan melihat segala hal dengan sedikit kabur.
Tapi apa? Justru apa yang menjadi tanggungan dari dirinya tidak hanya dosa
kepada Tuhan semata, namun juga kepada masyarakat puritan, dirinya sendiri,
Hester Pryne dan yang lebih membuatnya semakin menderita perihal suara, kasih
dan tentu rasa bersalah yang kuat adalah Pearl yang telah berumur untuk ikut
dalam tatanan masyarakat puritan. Apapun yang ada di kepala pendeta itu tidak
lain dan bukan adalah kelemahan diantara kebenaran dan tentang Tuhan. Setiap
kali ia tak sengaja melihat Pearl, berlari, ataupun berjalan, jantung yang
melekat diantara bilik paru kanan dan kiri seakan tarik-menarik menahan
kekuatan tarikan antara kejujuran dan rahasia yang mendekam.
Penderitaan itu pun yang tak mampu membuat dirinya bertahan
lama; membuatnya semakin sering beribadah dan menghukum dirinya sendiri, tanpa
semua orang tahu, pun termasuk Hester. Pada bagian ini, menurut saya—Pendeta
hanya ingin berurusan dengan Tuhan saja, sepertinya. Dan sekali lagi, apa
yang kita pahami tentang isi hati?