Senin, 23 November 2015

The Scarlet Letter, Simbolisme tentang Romantisme dan Dosa


Saya duduk dalam sebuah kelas, kelas yang panas lebih tepatnya. untuk yang kedua kalinya (Setelah belajar sastra; prosa 1 sebelumnya,) kembali bertemu dengan prosa 2. Sebagai salah satu kajian dalam sastra, tentu prosa menjadi sangat penting untuk dipelajari (walau terkadang, banyak mahasiswa yang belajar tapi tak mengetahui, apa lagi memahami ataupun ada beberapa yang pura-pura tak ingin tahu). 

Tentang novel scarlet letter, saya baru mendengar judul novel itu. Kesannya pun tergolong romantis, pada mulanya, dikepala saya terlintas tentang kisah-kisah asmara yang kompleks dan dinamis, bernama Scarlet (walaupun hati saya bertanya-tanya, nama itu adalah untuk perempuan atau laki) dengan suratnya yang teruntuk buat seseorang yang dia rindukan. Tapi, ternyata saya salah--untuk menilai sesuatu tidak selalu tentang satu jalan, karena terkadang ada jalan yang membuat kita lupa untuk kembali pulang ke rumah (benar). 

Saya mengerjakan paper ini setelah beberapa minggu yang lalu berusaha memahami maksud dari ceritanya (benang merahnya). Awal masalahnya, masalahnya dan penyelesaian masalahnya. 

Di awal novel, ada bagian "the-custom house", menurut saya ini adalah salah satu kata pengantar yang sangat unik dan keren (selain kata-kata pengantar dalam buku puisi). Banyak yang mempertanyakan apa maksud dari Nathaniel Hawthorne menulis itu, padahal secara cerita, sama sekali tak berkaitan langsung. Kata "the-custom house" sebenarnya menjadi pertanyaan "menunjukkan/menjelaskan apa?". Secara umum, berdasarkan analisis wacana saya, "the-custom house" merupakan bagian dari novel (sebagai pengantar cerita) yang beralih fungsi menjadi "curhat" penulis tentang sejarah, pengalaman, dan realitas yang terjadi di sebuah tempat bernama Salem, perihal orang-orang yang bekerja di sebuah tempat di mana pemerintah Paman Sam ditegakkan. 

"in breeze or calm, the banner of the republic; but with the thirteen stripes turned vertically, instead of horizontally, and thus indicating that a civil, and not a military post of Uncle of Sam's government, is here established". -halaman 3 

Saya mengutip kutipan yang berada di halaman 3 yang secara tersirat, "the-custom house" menunjukkan sebuah bangunan formal yang tertuju pada gedung-gedung pemerintahan di Amerika. 

"the pavement round about the above described odifice--which we may as well name at once as the custom-house.." -halaman 03 

Kata "aku" di bagian "the-custom house" agak gamang menunjukkan bahwa "aku" adalah Hester Pryne itu sendiri. Namun, setelah dibaca berulang-ulang, akan ditemukan bahwa "the-custom house" sengaja ditulis untuk menggiring kita untuk mengintip, bahwa dengan huruf yang disulam berwarna merah tua, bukan sebuah fiksi, melainkan gambaran tua dari lingkungan tempat tersebut. Penulis menjelaskan secara detail, bagaimana menjelaskan kepada pembaca, bagaimana ide itu dimulai. 

**
Jika setelah membaca “the-custom house”, diteruskan ke bagian pertama, maka akan kita temukan sebuah kontradiksi yang kental dari kedua bagian ini. Saya belum menyadari, hal-hal apa saja yang hendak disampaikan oleh “real author” dibagian ini, ataupun “fictive author”. Sungguh, bagian pertama “the prison-door” membuat saya bertanya-tanya dan berfikir dengan hati-hati. 

Pintu penjara dalam bagian ini bersetting di boston, tepatnya di desa kecil bernama Cornhill (atau dalam bahasa Indonesia, secara literal berarti bukit/lembah jagung), sebuah tempat dimana dihuni oleh orang-orang menengah kebawah (puritan), yang mungkin saja kebanyakan berprofesi sebagai petani (petani jagung). “the prison-door” berkemungkinan menyimbolkan sebuah kekalahan, ketertolakan, atau semacam lingkungan kumuh yang lekas akan disimbolkan, kemudian dikaitkan lagi dengan perilaku atau tindakan “asusila” yang dilakukan oleh Hester Pryne. Sesuatu yang jauh dari kata baik, cacian, kotor atau semacamnya. 

Gaya bahasa yang tidak terlalu detail dan jelas, tentu ditambah lagi dengan alur maju-mundur-maju, membuat inti dari bagian pertama masih terlampau gamang dan sukar disimpulkan. 

**
Adakah atau apakah kaitannya pintu penjara dengan lapangan? Sungguh, antara bagian pertama dan kedua semestinya terselip semacam “jembatan” untuk menghubungkan alur yang mundu, lalu tiba-tiba saja langsung berada jauh kedepan. Itu yang terasa setelah masuk dalam bagian kedua, novel The Scarlet Letter. 

Dalam bahasa Inggris, bagian kedua diberi nama “The Market-Place” sedangkan dalam bahasa Indonesia “Lapangan”. Loh kok jauh? Secara harfiah, The Market-Place berarti tempat pasar, atau lokasi untuk memasarkan sesuatu. Jika dilihat secara strukturalisme, maka akan dijumpaia arti yang jauh dari kata relasitas dengan yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. 

Menurut saya, “The Market-Place” memiliki arti jika disaksikan dari sudut pandang lain, yaitu pusat keramaian atau tempat-tempat yang bersifat umum dan memamerkan banyak aktivitas (di mana pasar pada umumnya). Secara alur, dibagian kedua ini menceritakan langsung kondisi sosial masyarakat yang saat itu sedang berlangsungnya hukuman “Scarlet” yang dialami oleh Pryne. Dialog antara orang-orang yang menyaksikan langsung Hester mengenakan pakaian yang terbordir huruf “A” lebih membuat adegan “pengadilan” dari gereja ini begitu jelas dan nyata. Fictive narrator, dalam hal ini, penulis sendiri (Nathaniel Hawthorne) terlihat piawai memainkan kondisi, momen serta cibiran-cibiran puritanisme terhadap pendosa yang teradili. 

Coba analisa “kepuasan hati” salah satu masyarakat puritan ketika menyaksikan langsung Pryne di “The Market-House” yang terdapat di halaman 53 buku terjemahan Indonesia 

… “Ah, tapi,” terdengar suara seorang wanita muda yang lebih lembut, menggendong anaknya, “biarkanlah ia menutupi itu sesukanya, tanda itu akan tetap ada di hatinya.” –Halaman 53 

Jika dalam novel bahasa Inggrisnya tersurat di halaman 47; 
… 

“Ah, but,”interposed, more softly, a young wife, holding a child by the hand, “let her cover the mark as she will, the pang of it will be always in her heart”-page 47 

Perpindahan (narrative transmission) setiap plot tersiar begitu enak dibaca dan lebih mudah digambarkan di dalam kepala dan fikiran. Berbeda dengan bagian pertama yang terkesan “pelit” menarasikan hal-hal jelas nan penting, oleh karena itu juga, kita bisa melihat dari jumlah teks atau halaman, sangat sedikit dan pelit bukan? 

***
Berlanjut dengan plot yang terus menerus mengalami perkembangan, namun tetap pada latar belakang (Setting) tempat yang sama—lapangan. Pada bagian ketiga dalam novel in—the recognize. 

Dengan mengkaji gaya bertutur dari narrator (real/fictive narrator), dapat disadari bahwa penambahan massa atau beban dalam cerita dapat dengan mudah diketahui. Dapat dikatakan bahwa, permasalahan akan timbul seiring usaha-usaha untuk menyelesaikan masalah sebelumnya. The Recognize dalam hal ini lebih menitikberatkan kepada penambahan karakter baru (Dalam hal ini, suami Hester Pryne yang telah tiba di Boston), dengan plot yang tentunya mengalami perkembangan secara men-dinamis, di mana “pengenalan” dalam hal ini lebih kepada narrator yang hendak masuk atau ikut kedalam alur cerita, lalu menyesuaikan diri dengan karakter-karakter lain yang terdapat di dalam. Ibarat jika dalam dunia satwa—adaptasi terhadap lingkungan agar tetap mampu bertahan dalam suatu populasi hewan. 

Ini dapat dengan mudah ditemukan dalam paragrap pertama pada bagian ketiga ini, dengan pengenalan tentang kondisi dan keramaian yang tiba-tiba saja (yang dirasakan oleh Roger) sesaat setelah tiba. Apalagi diperkuat dengan adanya dialog dengan orang-orang yang ia tanyai secara langsung. 

“then, touching the shoulder of a townsman who stood next to him, he addressed him, in a formal and courteous manner; “I pray you, good sir,” said he, ”who is the woman?”—and wherefore is she here set up to public shame?” 

Percakapan dan lalu pertanyaan ini hanyalah sebuah representasi “kekecewaaan” dari seorang Roger kepada Hester (suami kepada istrinya). Pertanyaan ini justru menjadi awal perasaan yang dulunya merasa cinta kini hendak berubah wujud menjadi benci dan dendam, dendam kepada laki-laki yang menjadi lawan zinah dari istrinya. Pandangan mereka sebenarnya bertemu secara tidak bersama-sama. Mata Hester lah yang lebih dahulu melihat kehadiran Roger yang terselip diantara segerombolan masyarakat puritan yang hendak menyaksikan keputusan gereja terhadap pelestarian sanksi sosial yang tentunya mencederai moral dan aturan. 

**
Pengenalan yang awalnya muncul kini berkembangan dan berubah menjadi percakapan. Pada bagian keempat ini, merupakan bentuk dari kejenuhan plot yang terdapat pada bagian sebelumnya. Kesaksian terhadap perempuan antara Hester dan Roger hanya diketahui pembaca yang budiman bahwa mereka adalah sepasang suami-istri. 

Tentunya, “the interview” dalam hal ini perbincangan langsung telah ditemukan pada bab ini. Taka da lagi system yang malu-malu atau perasaan satu sama lain yang tidak enak atau semacamnya (mungkin ada, secara psikologi—tapi tak disuratkan secara gambling dalam wacana). Bagian empat ini juga menjadi keabsahan tersendiri terhadap “aku/saya” yang bercerita di dalam, permainan karakter, bagaimana emosi masing-masing karakter berkembangan, hingga melahirkan hal-hal diluar penerkaan dari pembaca. 

Secara umum, percakapan pada bab ini adalah kesempurnaan terhadap perkenalan yang terkisahkan sebelumnya. Berbicara tentang hukuman, jawaban yang pas untuk dijadikan obat penyembuh sementara dalam menjalaninya adalah menerima. Tentu, sikap menerima tidak selalu tepat mengisi kekosongan. Kadang kala, menerima tidak selalu sesuai dengan pemenuhan. Apapun itu, termasuk sanksi (hukuman) yang sifatnya meng-abadi.

Dalam bagian lima, Hester At Her Needle memulai kehidupan normalnya dari penjara setelah diantar oleh keputusan gereja dan masyarakat puritan. Ada hal yang mencenangkan ketika saya membaca bagian ini secara berulang-ulang. Hal ini mungkin menjelma sebagai penyiksaan yang lebih kejam pada saat kedua kakinya melangkah keluar dari penjara, mencoba berbaur dengan masyarakat, dari pada prosesi yang pernah ia jalani sebelumnya, saat Hester menjadi objek penghinaan hingga simbolisasi perbuatan asusila. 

Ia akan memulai kehidupan sehari-harinya yang normal, dan ia harus mampu mengatasi segala hal yang terjadi bila ia tidak ingin tenggelam di dalamnya.

Menurut pengalaman saya, atau pengamatan saya. Saya sejujurnya kurang sepakat dengan paragrap ini. Kenapa? Setelah membacanya berulang-ulang, menahan nafas lama-lama hingga melawan rasa ngantuk yang tajam, saya menemukan mutiara bahwa setelah Hester dikatakan tenggelam oleh Narrator, ia justru menemukan sebuah hidup yang selayaknya normal (kembali) dan bahkan lebih dari itu, kehidupannya berubah seiring kemampuannya yang dikenal “indah” itu menjadi bagian yang dianggap suci oleh sebagian masyarakat melalui berbagai model sulaman dan jahitan khas tangan pendosanya. Sungguh Tuhan sangat adil dibagian ini, beda ketika membaca bagian sebelumnya..dan tak tahu bagaimana lagi selanjutnya. Lanjut…

**
Sebenarnya (Dalam novel), Hester sendiri merasa kesepian, tanpa teman menjalani  lanjutan kehidupan (hukuman). Hebatnya, ia tidak terlalu menganggapnya sebagai sebuah akhir dari kematian, ia memiliki sebuah keterampilan yang mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, yang juga sedikit demi sedikit mampu membuatnya lupa dengan hukuman yang ia jalani. Gaya dari sulaman Hester mempengaruhi gaya berpakaian orang-orang setempat. Aktivitas ini berlangsung secara bertahap, secara tidak sadar dan langsung, Hester lah yang menentukan gaya di kota tersebut. 

“By degrees, not very slowly, her handiwork became what would now be termed the fashion. Whether from commiseration for a woman of so miserable a destiny; or from the morbid curiosity that gives a fictitious value even to common or worthless things; or by whatever other intangible circumstance was then, as now, sufficient to bestow, on some persons, what other might seek in vain…” halaman 75

Dapat dikatakan bahwa, sungguh berat yang hester dapatkan dari hinaan hingga cacian (termasuk anak dalam perutnya), namun disisi lain terlalu besar peran Hester memasangkan sesuatu di tempat itu, buah hasil dari tangan-tangan yang di mata masyarakat setempat adalah pendosa. Sungguh, bahwa sungguh hinaan itu mengalir bagai air yang hendak menemukan bagian yang paling rendah. Dan semua orang tahu itu—seolah-olah, dedaunan setiap hari berbisik tentang masa lalunya—tiupan angin musim panas bergumam tentang kisah itu—hembusan angina musim dingin meneriakkannya!
**
Kesepian itu akhirnya berubah lain, bahkan bisa terlalu ramai dan terlampau sepi. Anak yang dikandung Hester pun muncul dengan maksud merubah pandangan tentang sesuatu yang bernunsa suci pun dapat dihasilkan oleh hal yang bercita-rasa asusila hingga dosa yang besar. Saat Hester melihat pertumbuhan bayinya (pearl), kecantikan, kecerdasannya pun memancar seperti matahari pagi yang cukup hangat. Menghangatkan scarlet yang tertanam dalam di dadanya yang masih minor diketahui oleh seorang bayi. Ia pun menamai anaknya dengan sebutan (mutiara), sebagai satu-satunya yang berharga dan menjadi harta yang tanpa bernilai sesuatu.

Di bagian ini, Tuhan memposisikan dirinya sangat baik, kenapa? Ternyata, salah satu konsekuensi dari dosa adalah keberhargaan, dibalut kecerdasana dan kecantikan. Namun, seiring tumbuh kembangnya, Pearl pun disimbolkan sebagai gabungan antara bunga liar yang cantik, bayi miskin dan sekaligus seorang putri. Dari dalam dirinya, ada semacam semangat serta gairah yang dirasa tidak pernah hilang. Di sini, bagaimana status Hester yang berubah menjadi seorang ibu perlahan melatih dirinya baik secara psikis dan praksis untuk kuat dan selalu mampu bertahan dalam setiap posisi dan kondisi yang ia jalani, termasuk ketika ia menggendong anaknya, kadangkala setiap saat merasa khawatir dengan tempat tumbuh-kembang pearl, hingga yang paling menjadi ketakutan seorang ibu adalah ketika sang anak bertanya siapa kah laki-laki yang menemani Ibunya, yang membuatnya diri dan jiwanya berada di tempat asing ini (dunia dan tubuh).

Fenomena ketika Hester menggendong Pearl, memeluknya dengan erat tepat di dadanya, mencium wajahnya, untuk memastikan bahwa Pearl bukan sebatas khayalan semata ataupun buah dosa dari hati (buah hati dari dosanya). Ketika wajah Pearl tersenyum hingga tertawa, terdengar seperti music, suara itu kadang membuat Hester lebih merasa ragu dari yang sebelumnya. Tampaknya, ada refleksi kejahatan yang ada dalam diri putrinya itu. Semua perasaan dan nafsu yang diwarisi oleh Pearl adalah isi dari jiwa Hester.

**
Berlatar belakang di rumah gubernur Berllingham, Hester dengan gagahnya berani mengunjungi rumah salah satu pejabat penting di tempat ia berdosa, ia mendapatkan  kembali “hukuman” baru setelah keputusan “pengadilan” masyarakat setempat yang hendak memisakan dirinya dengan Pearl, sang mutiaranya. Hester memberanikan dirinya untuk menuntut haknya sebagai Ibu yang bertanggungjawab, maksud saya Ibu yang bertanggungjawab dengan dosanya. Sungguh, ia Ibu yang amat sangat jarang.

Penggambaran tentang rumah gubernur mencerminkan kemurnian ornament-ornamen puritan di masa itu yang dikenal sangat kental dan masih mengusung tentang kemurnian dalam ajaran-ajaran, mengusung kebudayaan-kebudayaan leluhur dan tentu tak akan jauh dari karakteristik kekuatan gereja pada saat itu. Sebuah potret yang menceritakan sebuah kejayaan Berllingham yang terdahulu. Fokus dalam bab ini secara gamblang ditujukan kepada Pearl. Mungkin saja, situasi rumah Gubernur itu adalah sebuah hal yang baru—kebahagiaan yang baru. Kondisi yang tak mampu mengendalikan diri, mengikuti hal-hal yang tak semestinya baru, hingga melupakan pengawasan ibunya yang “khawatir” dengan senyum Pearl yang setiap harinya berubah-ubah, kadang senyum itu adalah bukti tentang sangat dan paling dari suasana hati anak perempuan se polos Pearl.

**
Jika membaca baik-baik di bagian ini, ada paragrap yang menurut saya Narrator merasa khawatir kepada pembaca, tepatnya paragrap kedua, sang Narrator khawatir mengenai sesosok peran yang telah memegang andil nan penting dalam scenario hukuman yang dialami oleh Hester. Walau saya sedikit memberikan apresiasi kepada Narrator dengan menyelipkan kata “pembelaan” lewat kata ‘ingat’. Di bagian ini, saya merasa bukan lagi membaca sebuah cerita, melainkan membaca hasil dari sebuah cerita, maksudnya serupa ketika kita mendengar atau cerita dari teman yang telah mengetahui ceritanya secara menyeluruh—dan mengingatkan kembali dengan beberapa potongan-potongan kalimat yang tak ‘semestinya’ kita lupakan. Iya kan?

Saya sungguh tergugah melihat pembelaan Hester untuk anaknya, Pearl. Ia tak hanya sebatas membela, tapi tetap membela, tanpa dendam sedikit pun dalam hati, ketika sesekali berfikir tentang masa depan buah dosanya, maksud saya, bunga hatinya. Ketika berniat mengajukan hal baik tentang status perpindah tanganan anaknya, ia merasa dengan hadirnya Pearl, tidak hanya memberinya pelajaran tentang akibat dari dosa terdahulunya, Hester berdalih bahwa Tuhan lah yang menitipkan Pearl kepadanya, menghukum dirinya dengan mengubah dan menambah tanggungjawabnya sebagai Ibu yang “mesti” kuat menjaga dan menghapus segala kenangan yang tertancap sakit dan dalam di dadanya. Tentu, bukan sesuatu yang mudah bagi perempuan, kecuali perempuan itu memang memilih mati untuk menuntaskannya.

**
“Tuhan telah memberiku anak ini, dia memberikan Pearl sebagai pengganti dari segala sesuatu yang telah diambil dariku. Anak ini adalah kebahagiaanku! Dia adalah penderitaanku! Pearl membuatku tetap hidup! Pearl menghukumku juga! Tidakkah kalian lihat, dia adalah huruf scarlet, dia adalah lambang dari dosaku! Kalian tidak akan mengambilnya dariku! Aku akan mati!”

Jujur, saya memaksa diri saya untuk tidak merasa bahagia membaca buku, perasaan saya justru meyakinkan diri saya untuk menangis setelah membaca ini berulang-ulang. Sungguh, jika anak itu (pearl) adalah simbol dari dosanya, mengapa Hester tak mau menghapus dosanya dengan cara membunuh Pearl atau minimal membuangnya? Saya bertanya kembali; apakah ada Ibu setega itu, memurnikan dirinya dengan jalan menghilangkan nyawa buah dosanya, selain di Negara kita?

Dari bagian ini jugalah, sang ayah terlarang Pearl memiliki peran yang cukup sentral terkait keberlangsungan hidup Pearl. Adanya hubungan suci antara Ibu dan anak masih menjadi rahasia, “Tuhan di Surga, pencipta alam semesta juga mengetahui perbuatan dosa yang telah dua orang lakukan, namun tidak berarti mereka harus kehilangan cinta. Anak ini berasal dari kesalahan Ayahnya dan kenistaan Ibunya, namun ia juga berasal dari Tuhan”
Ada keajaiban dari Tuhan atas kelahiran Pearl; membuat jiwa sang Ibu, Hester Pryne dapat tetap hidup dan lalu mencegahnya terperosok dalam lembah kegelapan yang lebih dalam.

**
Hanya karena profesi, deraja seseorang setingakat lebih tinggi di atas masyarakat umum. Itulah fakta yang terjadi dalam koloni puritan, misalnya saja, dalam hal ini Roger, yang tak lain dan bukan adalah suami Hester Pryne yang berganti nama. Dokter menjadi profesi “penolong” Roger agar lebih mudah diterima langsung dalam sosial kemasyarakatan puritan. Selain cerdas dalam dunia medis, Roger pun mulai merambah keingintahuannya tentang siapa yang menjadi lawan zinah, istrinya. Secara tidak langsung, ia diperkenalkan oleh Arthur dimmesdale, dan lalu mencoba melebur diri ke lembah kehiduapan agamawan tersebut dengan berbagai klausul serta alasan perihal kesehatan yang dialami oleh sang pendeta muda seiring waktu, tidak baik. Oh iya, lewat pergaulang dan profesi itu, Roger secara tidak langsung mengetahui hal yang rahasia dari hidup Arthur melalui percakapan demi percakapan yang ia bangun dengan “sengaja”.

Bagian ini mengajarkan saya tentang menilai sesuatu dari sifat sesuatu yang hendak disimbolkan dan yang dimaksudkan. Misalnya saja Lintah. Salah satu hewan yang membuat saya takjub dan juga tak menyangka. Ia hanya melekat, diam dan jarang disadari keberadaannya; tapi diam-diam dan ketidaksadaran itu membuatnya begitu bebas dan jahat mencuri darah dari bagian tubuh yang ia hinggapi dengan kemunafikannya. Saya bertanya, apakah suami Hestre Pryne itu adalah lintah untuk tubuh spiritual dari Arthur dimmesdale? Semoga kita lekas menemukan jawabannya diakhir tulisan ini.

**
Apa yang kau pahami tentang isi hati? Saya teringat beberapa penggalang puisi teman jauh saya di kampus sastra yang lain. Tidak ada yang mesti harus dipahami jika diperhadapkan dengan isi hati. Tentu, seperti yang dikatakan oleh Harper Lee, dalam penggalang awal bukunya Go Set A Watchman;

“Kau tidak akan pernah memahami seseorang (hati) hingga kau melihat sesuatu dari sudut pandangnya…hingga kau menyusup ke balik kulitnya dan menjalani hidup dengan caranya”

Semua yang lekas dirasakan oleh orang-orang setempat justru menyiksa fisik dan hati Arthur Dimmesdale, sudah menjadi kebiasaan seorang pendeta untuk mencintai kebenaran, dan melihat segala hal dengan sedikit kabur. Tapi apa? Justru apa yang menjadi tanggungan dari dirinya tidak hanya dosa kepada Tuhan semata, namun juga kepada masyarakat puritan, dirinya sendiri, Hester Pryne dan yang lebih membuatnya semakin menderita perihal suara, kasih dan tentu rasa bersalah yang kuat adalah Pearl yang telah berumur untuk ikut dalam tatanan masyarakat puritan. Apapun yang ada di kepala pendeta itu tidak lain dan bukan adalah kelemahan diantara kebenaran dan tentang Tuhan. Setiap kali ia tak sengaja melihat Pearl, berlari, ataupun berjalan, jantung yang melekat diantara bilik paru kanan dan kiri seakan tarik-menarik menahan kekuatan tarikan antara kejujuran dan rahasia yang mendekam.

Penderitaan itu pun yang tak mampu membuat dirinya bertahan lama; membuatnya semakin sering beribadah dan menghukum dirinya sendiri, tanpa semua orang tahu, pun termasuk Hester. Pada bagian ini, menurut saya—Pendeta hanya ingin berurusan dengan Tuhan saja, sepertinya. Dan sekali lagi, apa yang kita pahami tentang isi hati? 

Share: