Tampilkan postingan dengan label Karya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 14 Desember 2017

Hasrat di Bulan Bahasa UGM 2017


Tahun ini merupakan tahun pertama saya ikut serta dalam event Bulan Bahasa UGM yang sudah saya ketahui sejak beberapa tahun lalu. Agenda tahunan yang cukup punya tempat di kalangan mahasiswa yang memiliki nurani untuk melestarikan bahasa Indonesia. Melalui beberapa kategori lomba—saya dengan tidak mempertimbangkan apa-apa, iseng mengirim sejumlah uang ke rekening panitia sebagai biaya registrasi. Uang yang kemudian saya pinjam dari rekening seseorang yang cukup penting dalam hidup saya. Dan lantas apa yang terjadi dengan puisi saya?

Saya menulis puisi berjudul ‘Hasrat’ tidak lain hanyalah sebatas respon kekecewaan saya (mungkin karena saya tidak paham motif dan alasannya) terhadap Colliq Pujie yang susah payah menyalin dan mengumpulkan kisah-kisah I Lagaligo yang kemudian Epos itu bermukim di tanah Eropa (mengapa tidak di negerinya sendiri). Terhadap tokoh bernama Sawerigading dan budak-budaknya. Saya tidak pernah berharap puisi ini dapat berbicara terlalu jauh.
**

HASRAT

--setelah pamit kepada diri yang lain

aku berjalan tanpa bayang
dan masih menyandang gelar matinroe ri tucae
setelah kematian lebih dulu luruh
menemani anumerta yang sempat
disemati orang-orang Tanete
bersama La Rumpang menemu ritus khayali
penumpas segala jenis penindasan.

kau menunggangi lontaraq untuk kembali
menemui La Makkawaru yang tak pernah sempat
diangkat menjadi Datu di tanah Tanete
“kau terlalu buruk ketimbang perempuan.” katamu
bersama I Gading kau semakin hilang atas kendali dewata
apalagi setelah ambo’ mu menggali kepergiannya.

--dan perempuan di generasimu adalah tiang penyangga
bagi kekuatan-kekuatan buta atas restu penghianatan

dan pada akhirnya sebelum pengasingan itu
setelah kematian La Tanampareq To Apatorang Arung Ujung
para keluarga mencium aroma penghianatan
dan pada akhirnya kau dibawa ke Jumpandang
sembari mencipta lontaraq tanete dan elong
dua puluh tahun membantu mereka menyalin
jauh setelah Galigo lahir diingatan-ingatan kami.

--kami yang kau sembelih kelak menjadi karat bagi pedang-mu

cinta bisa menggores apa saja
telapak tangan, kening, dada, kuda bahkan
yang tak pernah benar-benar ada
kami berjumpa di atas langit selepas
bahtera menyelamatkan banyak pendosa
dan samudera terbelah menenggelamkanmu
lalu rencana apa yang kau tawarkan pada anakmu
kelak jika ia tahu ibunya adalah saudara kandungmu.

--pergilah ke ujung beru atau bandar madani menemuiku

sebagai perempuan lain yang tak pernah kau temui 
tubuhmu disenyap kesepian dan berkali-kali
kesedihan terpasung sendiri di tanah bugis
terpasang wajah kembar turunan langit
tengah memasung jiwa dan memotong
lidahnya dengan sebilah bambu
untuk menjaga kesetiaannya.

kau menang atas cinta yang telah
lebih dulu mengalahkanmu

2017

(* Puisi terbaik I Bulan Bahasa UGM 2017


Share:

Sabtu, 20 Mei 2017

Puisi Nominasi Anugerah Sastra Litera 2017



Agape


Jika aku pulang dan mataku gagal
menembus kenyataan dengan menutup mata,
Masihkah telapak tanganmu terampil
memeluk kepergianku yang selanjutnya,
atau menolak tubuhku mengalir ke tubuh
sungai-sungai tak berbatu tak berhilir

Aku yakin angin yang bersarang dalam dadamu
Memilih membawamu ke pembulu kamarku.
Sungguh, ia ingin berkunjung dan menanyakan
Kepada sebuah persimpangan antara
Dada dan kepalamu yang rawan

Di dalam aliran sungai terdapat racau,
Hanya diam, menahan angin dan irama
Ingatan yang belum tiba ke hilir
Aku menaruh semesta di kedua matamu,
Sebagai isyarat kepastian cinta
Yang mudah pergi dan ada lagi

(2016)

Share:

Jumat, 27 Januari 2017

Di Tanah Merah



 Ia telah menemukan api bagi sebuah simbol perlawanan. Orang-orang percaya kau akan menyesali alasanmu mengamalkan isi buku itu. Kau kehilangan kendali. Ada yang mencuci isi kepalamu. Sejak Bapak meninggal, kau seperti meninggalkan dirimu yang dulu. Ayah dari Mama, hingga Bapak dari Ayah Mama juga akan sedih. Itu pasti mereka akan dicegat oleh Tuhan di atas sana. Seluruh perjuangan yang selama ini mereka bangun akan termakan kesia-siaan. Di surga, mereka akan sedih melihat keturunannya ikut ke dalam komplotan ikat kepala merah. Meneriakkan seruan merdeka! Revolusi! Dan ya, kau seperti memakan mentah-mentah istilah yang sering ditabukan layar-layar hitam putih. Kau komunis! kau ikut membunuh dan menghabisi nyawa orang-orang tak berdosa. Kau menulis banyak sekali. Tulisan-tulisanmu memang kuat, tajam dan keras serupa samurai mengeluarkan isi perut pejabat.

Sadarlah! Kakek pernah mengalami hal serupa, kau tahu itu. Ia hampir mati lantaran ia yakin ada yang salah dengan negara ini. Ada yang tidak benar dengan pemerintahannya, otoritarian. Dan ya, mereka berhasil membuat kita—mayoritas dari kita takut untuk melawan. Takut banyak bicara. Termasuk diriku. Aku malu karena kau lebih baik, dik. Ketakutan berhasil mereka tanam lewat banyak hal, dan yang pasti—kita terlalu banyak diam, menunggu dan sudah itu, kita sadar kita dimakan negara sendiri.

**

“Buka pintunya!”

“Badar!”

“Cepat pergi!”

Perasaanku terhambur. Belum juga kuselesaikan minum dan juga makanku, mereka datang lagi. Mencariku dengan membawa pucuk-pucuk kesalahan yang selalu sama. Orang-orang sewaan itu. Yang sebenarnya diantara mereka adalah bekas perkumpulanku dulu. Mereka telah berkhianat terhadap diri mereka, dengan senjata dan sepatu laras panjangnya, juga kemewahan yang abadi. Entah dari mana Jenderal tahu tempatku. Badar langsung menyuruhku pergi dari rumah. Menyeretku tanpa menghabiskan kopi buatannya.

“Cepat kau pergi!”

“Lewat sini, dan larilah ke tempat yang aman”

“Dila?”

“Biar aku yang urus, cepatlah!”

Tidak! Ia masih tidur. Sebenarnya aku sudah memperkirakan meraka akan datang. Mencariku. Kemungkinan terkecil akan membuangku ke pulau buruh. Bersama tahanan-tahanan lain yang juga rekan seperjuanganku di lembaga kebudayaan. Aku terpaksa melakukannya. Aku tidak ingin ia mati seperti yang perempuan-perempuan yang lain. Aku mencitainya. Perempuan berjilbab itu masih terlelap, menidurkan lelah setelah seharian menemaniku mengambil singkong. Aku mencintainya. Sungguh, aku sangat mencintainya. Semoga ia tak mencemaskanku.

“Istirahatlah, besok kita akan pergi.”

“Mas, juga.”

“Iya sayang”

Sesaat sebelum matanya tertutup, aku mencium keningnya. Ia menyadari itu. Hanya itu yang bisa kuceritakan. Maaf!, sekali lagi maaf. Aku bukan teroris atau buronan yang nekat melarikan diri dari rumah tahanan pemerintah. Aku juga bukan buruan untuk pasar gelap yang dihargai mahal. Aku bukan pemberontak. Aku hanya membangkang. Aku pun bukan orang yang selalu dikejar kreditur Bank akibat pinjaman yang membengkak. Aku hanya masyarakat biasa. Sama seperti kalian. Sama sepertimu. Aku hanya ingin bertemu pak presiden, dan mengatakan langsung di depannya bahwa negara ini kaya. Negara ini punya potensi. Negara ini tak perlu orang asing. Negara ini memiskinkan rakyatnya. Negara ini neraka!

Surat-suratku ditolak, tapi tak berhenti menulis. Koran-koran stensilan satu-satunya tempat untuk kepedulian presiden melihat kami. Aku punya komplotan. Lebih tepatnya organisasi rakyat. Kami punya simbol ikat kepala merah. Kelasnya jauh dari kelas anda yang mulia. Kami berasal dari turunan buruh, juga petani. Bahkan tidak kedua-duanya. Tapi kami bukan pencuri atau pembawa lari uang rakyat. Kami yakin ada yang salah. Kami kelaparan di tanah kami. Bagaimana mungkin kota berbahagia melihat penderitaan kami di sini. Kami senasib untuk membenci pemerintah, juga kacang hijau itu. Mereka orang-orang berotak kapital. Jika kami bersuara, maka pucuk senapan lebih punya muara. Kami harus mati di tangan pemerintah.

“Bakar rumahnya!”

“Anjing!”

“Keluar kau semua! Sialan!”

“Tunduk!”

“Kami bukan penjahat!”

Suara-suara tendangan, pukulan, bahkan cacimaki kami terima. Semua itu masih tersimpan jelas diingatanku. Bagaimana teriakan Mama, juga Ayah yang penuh dengan darah. Adik-adikku mati karena diperkosa dari hidup sampai mati. Kami yang tersisa sulit melupakannya. Pastinya mereka dapat tersenyum melihat perjuanganku memimpin kelompok ini. Dan malam ini, sebelum kami berkumpul—mereka, kacang hijau bersenjata itu mendatangi rumah Badar.

“Mana dia!”

“Ada apa ini? Tak ada siapa-siapa di sini, pak!”

“Geledah! Diam kau.”

“Baik pak!”

“Kau sembunyikan di mana berandal itu, hah!”

Bogem mentah mendarat ke wajah laki-laki sederhana itu. Kopia yang dikenakannya jatuh ke tanah. Tak ada lantai di sana. Ia terlutut. Mengerang. Menahan sesuatu dari mulutnya. Baju kokohnya kusut, kemudian corong pistol menempel di samping keningnya. “Kau sembunyikan di mana dia!?”

“Siapa?” nadanya tercekik

“Jancok!”

“Orang ini” fotonya kelihatan buram

“Tak ada siapa-siapa di sini!!”

Anak buahnya kembali. Wajahnya tegang. Salah satunya menghadap, membawa secarik kertas dan memberikannya ke pimpinan bertato segitiga dengan lingkaran kecil di bagian bawah rahangnya. Ia juga terlihat memegang sendal jepit merah.

“Ada mayat di kamar, pak!”

“Apa kau bilang?”

“Ada orang mati di kamar. Seorang perempuan, berjilbab.”

“Anjing kau, Badar! Pembunuh bayaran!!”

“Dila? Kau apakan dia, hah!”

“Keparat!”

“Antek-antek PKI!”

“Ini pak!”

“Aku ingin jadi peluru. Apa ini?” Kau berkhianat

“Dia ada di sini, ini buktinya.”

“Baru saja ia melarikan diri. Kami yakin orang itu pergi setelah mendengar suara ketukan pintu yang keras. Kami menemukan surat ini di meja kamar itu”. Tunjuk salah satu tentara dengan moncong senapannya. “Kau menyembunyikannya? Bangsat! Berani kau!”

“Bunuh dia!”

“Penghianat!”

Allahuakbar”

Tembakan meleset. Tapi itulah yang tersiar hingga sampai ke telinga banyak orang. Ia mati sebagai pahlawan revolusi. Itulah yang sempat kudengar. Yang diketahui bernama Badar mati lantaran menyembunyikan kakek.

Dan nenek, setelah ia tertidur malam itu—ia tak terbangun lagi. Sedikitpun. Suara pistol tak membangunkannya. Pemberontak melihat perempuan yang tidur dengan sangat lelap. Mereka heran. Tubuhnya dingin. Kenang salah satu teks dalam buku sejarah. Orang-orang percaya Badar mati karena menjadi peluru. “Jika aku menulis dilarang, aku akan menulis dengan tetes darah.”

Darahnya mewakili suara kakek. Suara simbol perlawanan kala itu. Dan tragisnya, orang-orang percaya kakek sengaja membunuh nenek dengan menuangkan racun di gelas air minumnya. Sesaat sebelum ia mencium keningnya dan tidur selamanya.

“Kakek bukan pembunuh!”

Sampai hari ini, kakek hilang. Kabarnya tak jelas. Ia mati tetapi tak punya tanda atau kuburan. Ia seperti ditelan semesta dan tak menyisakan apa-apa. Tuhan sengaja menyembunyikannya. Aku yakin itu. Tuhan mencintai rakyatnya.

“Matilah kata-kata”



(2017)

(*)
dimuat di kolom cerpen Cakrawala, Makassar-Gowa.
Share:

Minggu, 27 November 2016

Mendengar Laki-laki, Perempuan yang Menulis dan Menangis Karena Puisi




Dalam kepalanya ia tahu, satu puisi atau bahkan tak terhitung puisi bisa lahir dari kesedihan, kutukan, atau kepuasan, dan pusatnya adalah kesunyian. Bayangkan betapa berharganya kesunyian itu, minimal di kalangan para penulis puisi. Saya tidak akan menjelek-jelekkan manusia-manusia yang membenci ini, mencela mereka yang anti dengan sebutan jomlo atau meludahi wajah orang-orang seperti plato atau aristoreles yang sok bijak itu—sungguh saya tidak pantas melakukan semua itu. Apalagi bagi perempuan seperti saya yang lebih suka mendengar, menyimak dan menatap laki-laki hidup dalam dunia rekaannya sendiri, mengabaikan dunia nyata yang tak pernah lengkap dengan pengalaman cinta. Atau tulisan-tulisan ringan dari laki-laki yang menulis dan membuat diri saya terasa hidup dan dikenal banyak orang, utamanya kepada para pembaca koran sastra yang setia, terima kasih banyak. Kisah ini terjalin tanpa saling mendahului, atau melanggar rambu-rambu yang ditentukan oleh pihak berwajib. Jadi tenang saja, tak ada tilang menilang atau langgar melanggar, saya akan berusaha menjadi tokoh yang baik. Dan tentu saja, dengan semangat cewek yang baru saja menginjakkan kaki di dunia kampus, dan belajar sastra—saya akan menceritakan yang penting-penting saja.

**

Debu beterbangan di jalan-jalan kota, berafiliasi menjadi seperti kabut pekat di kota Riaw. Kota Riaw adalah kota tempat salah satu temanku. Kota yang terkenal dengan kabutnya yang pekat, hingga dapat memudarkan penglihatan orang-orang baik dan jahat ketika berkendara. Asap-asap kendaraan tak lagi nampak, hanya lampu-lampu dan umpatan-umpatan bahasa melayu yang sering terdengar di jalan-jalan kota. Kata temanku, kota itu punya andil besar terhadap bahasa Indonesia. Ketika ia mengatakan itu, saya tertarik ingin belajar ke kota itu. Tapi ketika tayangan berita di TV mengatakan siaga asap, dan kebakaran akibat api yang berkobar seperti semangat pejuang empat lima, ketertarikanku akhirnya longgar, pada akhirnya pudar dan memilih kota Ujungpantang sebagai pilihan yang kesekian. Alasannya cukup sederhana, kota itu menjadi kota terbesar di pulau ini. Begitupun dengan jaraknya yang dekat dengan rumahku, di Rantepao.

Tak seperti Riaw, Ujungpantang cukup terkenal di kalangan mahasiswa di pulau seberang. Kota ini terkenal dengan karakter pemuda, begitupun petuanya yang serba pantang. Pantang mundur sebelum maju, pantang kenyang sebelum bersendawa, pantang jujur sebelum berbohong, pantang tidur sebelum menguap bahkan pantang menyakiti sebelum merasakan. Di kota ini, saya mengenalnya. Laki-laki berambut ikal penyuka susu, kopi dan pembenci rokok. Yang mengajarkan saya banyak hal, ketika awal-awalku pindah di kota ini.

Dia senior yang sempat menampar kedua pipiku dengan sandal gunung sewaktu ospek hanya persoalan sepele. Waktu itu, saya tidak sengaja menumpahkan minuman di almamaternya ketika istirahat, dan saya menerima tamparan itu. Bagi sebagian laki-laki di sini, menyakiti perempuan seperti sama saja membunuh siri’ na pacce di dalam tubuhnya. Saya tidak mengerti apa maksudnya, dan saya juga merasa tidak tersakiti—olehnya ia bukan pembunuh atau apapun itu yang orang-orang istilahkan di sini. Yang penting akibat tamparan sandal gunung itu, hubungan kami dapat terbangun. Kami berpacaran begitu singkat.

Pagi ini, Poki—skuter saya kembali mogok. Suntili’, saya akhirnya dapat berucap kata itu. Di kota ini, istilah itu punya makna dua arah. Jika dikatakan kepada orang yang dekat sekaligus akrap, maknanya akan terasa kita semakin dekat dan sudah masuk fase sayang menyayangi. Apabila sebaliknya, maka tak usah heran jika kata itu berbuah bogem mentah yang lumayan bisa meretakkan kemaluanmu.

Di depan, gerai koran yang menyediakan berbagai jenis bacaan dan juga kopi le’leng baru saja buka. Karena skuterku mogok, dan bengkel di depannya belum buka, saya singgah saja di gerai itu.

“Selamat pagi, pak. Sudah buka?”, helm bogo tanpa kaca kulepas dari kepalaku. “Iya, baru buka. Silahkan masuk”. Buru-buru saya memarkir motor kesayanganku.

Telepon di saku celana jins belelku berdering, sebuah pesan singkat dari si Akademisi, sekaligus penjilat ulung “dosen tidak masuk pagi ini, beliau berhalangan hadir karena sakit”, saya bahagia. Pikirku dari dalam hati yang paling dalam saya mengucap syukur. Dosen bangsat itu akhirnya sakit. Ketiban doaku sepertinya. Iya, doa anak yang teraniya cepat dikabulkan, kata ustad di masjid kampus. Minggu lalu ia sempat mengeluarkanku dari kelas hanya persoalan celanaku robek di bagian lututnya. Katanya, tidak etis seorang perempuan bergaya seperti gayaku. Apa yang salah? Begitu dangkal bukan cara berfikirnya. Setelah membanting pintu dengan lembut, saya spontan berdoa agar dosen itu sakit. Sakit jiwa kalau perlu.

“Kopi ta’ satu, tidak pakai gula”, kuambil satu koran yang selama ini sering kubaca. Di bagian depan koran menyiarkan tiga reportoar di panggung politik. Ketiga hal itu menyangkut persoalan kota dan keindahannya. Di panggung yang berbeda dalam satu bangunan adalah penyajian yang saya maksud mirip dengan novel Milan Kundera. Tetapi cara ini menjelaskan satu persoalan yang sama, ruang kota senantiasa menuntut masyarakat menjadi manusia dinamis yang kehilangan waktu untuk berkontemplasi. Seakan berkatarsis hanya milik kaum agamawan atau bangsawan yang senang merenungkan kehidupan akhirat. Sementara permasalahan banjir, sampah dan juga macet secara nyata kita hadapi tak pernah cukup serius dikalahkan. Kusesap kopi hitamku. Membosankan sekali konten berita pagi ini. Di halaman selanjutnya, saya menemukan hal yang cukup membahagiakan. Di halaman rubrik sastra, puisi yang ditulis oleh laki-laki itu terbit. Judulnya kematian. Pada hari aku mati, tolong bantu aku mengingat ini; ibu berdiri di atas dengkul, kau mendongak tangan Ibu mengangkat pelembab bibir, bibirmu mengerucut monyong mengeriput. Ibu memulas, kini bibirmu seperti embun tapi terus menguncup, sampai Ibu mengecup, barulah bibirmu merekah melambaikan tangan, kau siap ke sekolah. Dingin di luar, tak ada yang mampu menggigilkan Ibu.

Air mataku jatuh mengingat Ibu di kampung. Saya semakin teringat dosa-dosa kecil yang pernah kulakukan, seperti pemerintah yang mendengar rakyatnya menjerit kelaparan. Di halaman ini, saya tidak sanggup lagi menahannya. Tak apa, katanya.

Di halaman selanjutnya, ada berita yang sudah cukup membuat saya semakin menderita. Seorang mahasiswa  mati dibegal dan ditikam di jalan Kerinduan. Ia berlumuran darah, dan meninggal di tempat. Di lokasi kejadian ditemukan sebuah buku puisi milik Robert Frost, beserta potongan koran. Kata koran, salah satu bagiannya memuat sebuah puisi dengan nama yang sama dengan laki-laki yang tengah berlumuran darah itu.(*)

(Makassar 2016) 
(*)
Cat : cerpen ini merupakan respon saya setelah membaca buku kumpulan puisi, Cyntha Hariadi "Ibu Mendulang, Anak Berlari" & puisi berjudul "kematian" adalah salah satu puisi dari buku tersebut.
*Terbit di rubrik budaya Fajar edisi Minggu 27 November 2016

Share:

Senin, 22 Agustus 2016

Meramaikan Separuh Hati yang Sunyi




Yang telah saya ceritakan di postingan sebelumnya yang berjudul “Menulis Bareng FAM Indonesia”, buku antologi cerpen berjudul “Separuh Hati yang Sunyi” merupakan salah satu buku antologi cerpen yang diterbitkan oleh Forum Aktif Menulis Indonesia (FAM Indonesia) yang terdiri dari 50 cerpenis nusantara. Event ini digagas langsung oleh sekretaris jenderal (Sekjend) FAM Indonesia pada bulan juni 2015 yakni Mbak Aliya Nurlela. Dari sekian banyak naskah, salah satunya terpilih cerpen saya (Kalau tidak salah ingat, karena sudah lumayan lama) berjudul Tangisan Ifqah. Cerita sederhana yang mengisakan sebuah keluarga yang telah ditinggal oleh kepala keluarga atas nama bela Negara.

Beberapa jam yang lalu, buku antologi itu kabarnya telah tersedia. Jadi untuk teman-teman pembaca yang budiman, selain yang bernama budi atau iman—silahkan ditemukan di tempat-tempat kesayangannya. Atau untuk lebih jelasnya, dapat langsung menghubungi pihak FAM Indonesia melalui pencarian google atau semacamnya.


Hingga akhirnya, aktivitas sederhana yang teman-teman lakukan bisa saja mengubah hal kecil menjadi besar tanpa kita sadari langsung. Pekerjaaan menulis memang tidak akan jauh dari kata separuh dan sunyi. Mungkin separuh dari diri kita tak terlalu menyukainya, dan sunyi bisa saja menjadi penerang utama dalam menuangkan gagasan dalam sebuah tulisan. Akhir kalimat, menulis itu pekerjaan yang mengabadikan (kata banyak orang), disamping ia juga mengabaikan (kata pacar penulis).  


Share:

Senin, 15 Agustus 2016

Aquarium dan Delusi




















Dua bulan terakhir ini, saya berbahagia. Selain karena PSM Makassar menang besar empat nol dengan Bali United akhir pekan kemarin, dan di awal pekan ini, klub favorit saya sedari tumbuh dan berkembang, Manchester United melibas Burnemouth dengan skor tiga satu di pekan pertama liga Inggris—hampir sepuluh sajak dan puisi-puisi saya dimuat di beberapa media nasional. Saya tidak akan menyebutkannya media apa saja,. Jika kebelet ingin tahu, kata kunci dengan menggunakan nama saya mungkin bisa diketik di mesin pencarian (Alam) semesta jika komputermu terhubung dengan internet. Terakhir saya mendapat kabar esai sederhana yang sempat ditulis menjelang sahur ketika bulan puasa dimuat di salah satu kolom sastra dan budaya. Kabar yang saya terima saat menonton langsung di stadion Andi Mattalatta, ketika PSM bersua Persegres Gresik United. Kesimpulannya, dua bulan terakhir saya ‘lumayan’ senang. Meski tanpa kau yang sulit tuk dikenang.

Nah, sebulan yang lalu—kurang lebih seperti itu, salah satu puisi saya terlibat ke dalam satu buku antologi yang menurut saya unik dan penuh makna. Unik karena baru pertama kali ini, saya terlibat dalam penulisan buku puisi yang melibatkan banyak orang. Tak tanggung-tanggung, seribu orang.  Buku puisi dengan ketebalan yang mungkin saja hampir menyamai tetralogi milik Pram. Penuh makna, karena sebuah kebanggaan dapat terlibat bersama dengan salah satu peraih Khatulistiwa Award, yakni Gunawan Maryanto. Antologi buku puisi yang ini diberi judul Aquarium dan delusi.

Buku itu sangat prestisius. Mengapa tidak, baru kali ini, sebuah buku puisi diterbitkan dengan jumlah kertas sebanyak itu. Selain kabar yang selalu hangat bahwa Aquarium dan Delusi rencananya akan merengkuh rekor MURI dengan buku dengan jumlah penulis terbanyak di Indonesia. Sekarang, saya bersama kekasih kawan saya sedang menunggu distribusi buku tersebut. Kabarnya, di bulan ini—seribu orang akan menerima paket itu dengan penuh cemas. Semoga tidak meriang.

Share: