Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Februari 2017

Menjelang Pergi

: Maghfirah Maulani

kehilangan yang sering dirayakan; 
aku membeli jam tangan dari toko 
depan rumahmu, di kotaknya kuselip 
perasaan, juga perayaan. 

kau tak punya waktu membacanya; 
lalu ia pergi, waktu berjalan dan tiba 
sebelum berangkat; usia menjadi terminal 
kau penumpang, saling menunggu sepasang pergi, 
membawa salah satu dari dirimu 
pulang ke usia yang baru.


(*)

Share:

Kamis, 22 Desember 2016

Desember, Jika Langit Hujan


; Z

Ingatan-ingatan rawan, terjagalah namamu di punggung awan yang tak kulihat nama serta wajahmu lagi, sedang merekah membentuk jalan setapak menuju rumah (sarang-sarang para burung dan kita sepasang kekasih yang murung) ingatan-ingatan jatuh, menimpa kepala-kepala gersang, langit menimpa awan seperti membiarkanmu pergi dengan sayap (burung-burung gereja dan kita tak urung mengeja) agama dan senggama berubah sepasang kaki tangan pemerintah menghujani kita dengan dogma bahwa perbedaan Tuhan adalah jalan kecil menuju perdamaian dengan darah dan air bah. Aku mencintaimu, dan kau memintaiku untuk bukan lagi sekadar setia; seperti kau yang tetap pergi apapun batasannya—seringlupa bahwa membatasi aku hanya ingkar yang kita rawat dengan sungguh-sungguh. Selamat natal katamu? Aku mendengarnya, dan ayah menembakiku dengan peluru yang menghujam namamu, di jantungku—mencipta hujan di langit-langit mataku. Kau mati sebagai ingatan-ingatan melebihi Tuhan, melampaui surga dari pemerintah dan malaikat dengan rautnya menemuiku tanpa sayap pemberianmu.



(2016)




Anak Natal


: B

Ibu melarangku berteman dengan salib,

Ia takut sebab ayah pernah raib.

Bersama Maria, ayah seperti bahagia

Bersama ayah, Ibu setia.

Aku anak nakal hasil ciptaan mereka,

aku ingin natal bersama Maria.


(2016)



Share:

Selasa, 15 November 2016

Demi Rasa

via baca puisi

Sesungguhnya kesunyian ini
benar-benar dalam kesepian.
Kecuali manusia-manusia yang merasa,
hidup tak cukup jika hanya benar
dan kau tak pernah mau sabar
menungguku kelar menikmati
perasaanmu yang sendiri.
“Demi rasa”, aku akan pulang
dengan perasaan yang tidak
Pernah kau rasai lagi.
(2016)

*puisi ini sangat terpengaruh betul oleh Al-Qur'an Surah Al-Asyr 
Share:

Sabtu, 15 Oktober 2016

Aku ingin kehilangan kau sekali lagi

***
Tidurlah sebab ceritaku sedang ingin berdongeng. Ia ingin menemanimu di tengah-tengah bantal, guling dan selimutmu yang nyaman. Doa-doa tidur kau lantunkan lewat penjuru hujan yang terus berburu kehangatan. Ia lelah, kemudian beralih menuju pipi dan juga matamu. Aku ingin menjadi biduk, dan kepadamu yang pernah membuatku ingin kukirimkan surat lewat doa-doa orang tiada. Apa yang selama ini kita lakukan adalah hal yang tak pernah dapat diartikan kehilangan. Apa yang akhirnya membuat kita merasa demikian adalah sesuatu yang sering kita sisipkan di tengah-tengah kebahagiaan. Tak ada pemilik yang benar-benar mengerti cara memiliki, bahkan perasaannya sendiri pun. Jauh sebelum keringat berlabuh, di kulitmu yang beraroma garam dan pelabuhan—angin melukai pantainya sendiri. Jangkar kau reda, menghantam karang yang sembunyi jauh di kedalaman dirimu. Jauh sebelumnya, seperti pertemuan yang membuatku menulis surat (puisi) ini, aku ingin kehilangan kau yang lain sekali lagi. Bacalah suratku ini, walau seperti anak kecil yang tengah mengeja kata menjadi kalimat. Apa yang tertulis adalah lupa yang selama ini kureda, kita yang sejauh serta selama ini menjeda. Seperti badai di tengah-tengah keramaian yang jahat—kita masing-masing pencuri dan pencopet yang berlari menghindari amukan orang-orang baik.

Makassar 2016 
Share:

Rabu, 14 September 2016

Zaa


Ada yang menyusun matamu dengan sengaja
Kau melihat dari jauh memuja orang dekat,
dan memuji orang-orang mati.
Matamu angin yang berkejaran,
arwah yang hilang ditelan rasa
Kemudian kau bunuh masa depan dengan
kepergian tempat aku untuk kembali.
Kau berubah menjadi ruh dalam tubuhku.


(2016)
Share:

Senin, 27 Juni 2016

Kereta Surat


Maukah kau membalas suratku?
Aku tak mengerti membaca kesedihanmu di seperdua imsak.

Mungkin terlihat payau, jadul dan tidak kekinian. Senyum yang kuseka sendiri, berdiri dan membentuk kereta kata, hendak menuju gerbong dadamu dengan lokomotif-lokomotif tua. Aku sendiri dan berharap atas bayang-bayang kesunyian, apakah kau di sana telah membaca kekhawatiranku di tahun ini? Penantian menerbangkanku seperti daun yang jatuh sendirian, ombak yang menggulung bahasa ke dalam pengertian-pengertian yang curam dipahami karang dan tebing. Penantian meloloskanku dari kepungan waktu, dari jarum jam yang menipu hari-hari dengan suasana sejuk mata air, kerinduan yang membaur dalam cawan retak antara cinta dan kegilaan, membuka ruang dan mengisi kekosonganku, berkali-kali.

Konstruksi kereta masih dalam proses pembangunan, dan tiga bulan terakhir tersiar bahwa harapanku sejenak berhenti, entah d stasiun milik siapa. Pembangunan tersendak akibat banyak hal; penggelapan uang di mana-mana, pembunuhan ide di pojok-pojok kota, perampasan ruang-ruang sunyi, penjagalan kebahagiaan hingga pengungkungan wajah-wajah manis dengan lesung pipitnya. Semua hal tercipta jauh dari kebetulan, termasuk usahaku bertamu lewat kata-kata malam itu. Temaram mencari cahaya dengan gelisah, mencari rahim ibunya, semesta yang tak membuatnya bertanya-tanya tentang hari depan dan penghakiman. Pada saat itu, kita tak lagi peduli tata krama, hingga tutur kata. Kita tahu, kita tak pernah mampu menata apa pun selain hati kita sendiri, diluar itu keinginan, harapan dan cinta memilih menyendiri. 

Kau tak ingin menceburkan cintaku ke dalam pengertian-pengertian yang disepakati orang lain, bukan? Aku tidak akan membiarkan mereka menghakimi kita. Rumah dalam diriku tak dibangun dari tumpukan penyesalan atau kesalah-kesalahan yang sempat kau padamkan, dan aku tahu kau bukan hati yang lemah yang terlihat dungu untuk dicintai kepalsuan. Berbekal segudang alasan yang bahkan kau tak pernah ingin merasa kenapa-kenapa.

Share:

Minggu, 13 Maret 2016

Kau dan Sepotong Aku yang bukan Dulu


yang kau sebut patah hati adalah kita yang pernah saling menyakiti

mencintaimu seperti menangis dipelukan dewasa,

entah aku yang masih seperti anak-anak

berlari, bermain meninggalkan taman bermain

lalu, melupakan diriku untuk yang bukan kita



yang kau namakan kecewa adalah dulu, ketika aku belum

menyadari matahari terbit di senja, salah satu matamu. terbit

di mata yang lain, dengan luapan air yang entah menghapus kenangan siapa.

sebelumnya, tak memilih tenggelam di relung hati yang paling dalam.

apa yang aku sebut indah ialah aku dan kekecewaanmu yang saling menamakan diri,

tanpa perkenalan—ataupun perpisahan, seperti pertemuan kita.



yang kau pahami tentang kesedihan adalah menahan kedua sungai,

dengan keyakinan yang tidak pernah dimungkinkan oleh siapa pun,

termasuk kepergiaan, kerinduan dan kenangan.

kau dan sepotong aku yang buka dulu.




2016
Share:

Senin, 28 Desember 2015

Menerjemahkan Velvet Shoes


Puisi ini merupakan salah satu puisi ciptakan penulis dan novelist perempuan Amerika Elynor Wylie (1885-1928) tentang sebuah perjalanan di musim dingin.


Velvet Shoes

Let us walk in the white snow

In a soundless space;

With footsteps quiet and slow,

At a tranquil pace,

Under veils of white lace.



I shall go shod in silk,

And you in wool,

White as white cow's milk,

More beautiful

Than the breast of a gull.



We shall walk through the still town

In a windless peace;

We shall step upon white down,

Upon silver fleece,

Upon softer than these.



We shall walk in velvet shoes:

Wherever we go

Silence will fall like dews

On white silence below.

We shall walk in the snow.


Elinor Wylie


Sepatu Velvet

Mari kita berjalan di atas salju putih
Dalam ruang yang hampa;
Dengan langkah kaki tenang dan lambat,
Pada kecepatan yang tenang,
Di bawah kerudung putih renda.

Aku akan pergi dengan sepatu sutra,
Dan kau dengan wol,
Berwarna putih seperti susu sapi putih,
Lebih indah
Dari pada dada camar.

Kami masih akan berjalan melalui kota
Dalam perdamaian yang berangin;
Kami akan melangkah pada salju yang paling dingin,
Di atas bulu domba perak,
Setelah lebih lembut dari ini.

Kami akan berjalan dengan sepatu beludru:
Di mana pun kita pergi
Diam akan jatuh seperti embun
Pada keheningan salju yang dingin.
Kami akan berjalan di salju.

Elinor Wylie

Share: