Tampilkan postingan dengan label Jurnal Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jurnal Sastra. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Juli 2017

Bercinta Tanpa Cinta Bersama Pelacur yang Sendu



Adakah usia tertentu untuk jatuh cinta? Kau bertanya dengan serius, dan saya mencoba menjawabnya dengan hati-hati. Saya pikir tidak ada, sayang, kataku. Saya sangat yakin kau mencintaiku, meskipun kau tahu ada orang di sisi tubuhku yang lain. Kau tetap yakin, dan kau salah. Buktinya dia (mungkin) lebih mencintaiku ketimbang kau dengan segala macam perhatianmu itu—ah sudahlah, kau terlalu serius memaknai perasaanmu. Sederhananya, aku tidak mencintaimu.
Paragrap di atas jika dibaca dengan serius cukup menggaggu nalar sebenarnya. Ya, cukup menggaggu harapan. Kalimat itu mungkin sangat sering muda-mudi temui di akhir kenyataan yang pahit. Meyakini sepenuh hati, dan diyakini setengah hati—hingga suatu ketika jadilah hati tak ubahnya seperti pelacur. “Mana yang kau pilih, pelacur ‘hati’ atau pelacur ‘kelamin’?” Paragrap pembuka di atas sudah tentu condong ke pilihan yang kedua. Ya, pelacur hati. Seorang laki-laki atau perempuan yang sebenarnya telah memiliki atau dimiliki seseorang, kemudian menempatkan diri (tanpa hati) ke hati yang lain bermodal balas budi. Kasihan sekali yang bernama Budi itu. Dan itu bukan masalah, Budi tak suka membaca. Iya hanya suka ditanya oleh Ibu Guru di sekolah dasar. Hati bisa dibagi kepada siapapun—untung rugi punya peran dinamis di sini. Jadilah komersialisasi hati. 
Pelacur yang baik adalah ia yang bekerja tanpa mengedepankan perasaannya. Mungkin kalimat yang baru saja kita baca sama-sama itu kelihatan atau kedengaran samar-samar. Saya sepakat. Kau bukan pelacur, atau mucikari yang jahanam. Saya bukan pelacur, atau penikmat jasa-jasa mereka.
Mari melupakan potongan perasaan di atas. Terjemahannya masih amburadul. Mari mengkampanyekan kesetiaan. Jika sepakat, kesetiaan hanya milik mereka yang membaca dan, tentunya yang berupaya menulis, bukan pelacur. Berbicara pelacur, saya kemudian ingat kepada salah satu novel yang ditulis oleh Gabriel Garcia Marquez (Gabo), seorang novelis Kolombia dan peraih nobel sastra tahun 1982. Tak ada pembaca sastra yang meragukan kemapanan Gabriel Garcia Marquez. Saya meyakininya seperti Yesus yang tetap setia pada salibnya. Gabriel Garcia Marquez merupakan seorang literature master yang dikenal dengan genre magic realism (realisme magis). Meskipun tak semua karyanya terselimuti genre tersebut. Akan tetapi dominasi dan kritikus sastra menyatakan dengan khitmat bahwa beliaulah founding father salah satu aliran yang lahir pada fase postmodernisme tersebut. Satu aliran dengan Jorge Luis Borges dan Isabel Allende, Gabo menuliskan karya-karya yang berbenturan dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada abad ke-20, di mana peristiwa yang sebenarnya imaginatif diceritakan secara realistis, sehingga kesan yang dihasilkan terasa seperti nyata dan benar-benar ada. Seperti kau dengan gayamu yang PHP itu. Selain itu, sebagian besar karya Gabo sendiri punya hubungan kausalitas yang mengenai sisi hidup dari usia lanjut, kematian, cinta, dan hal-hal tak masuk akal. Sastrawan kolombia ini punya tempat khusus di hati saya.
Dalam Novel yang berjumlah 133 halaman ini, Gabo bercerita tentang kehidupan seorang wartawan senior yang menghabiskan hampir sebagian besar hidupnya berhubungan seks dengan para pelacur. Pengalaman dengan pelacur pertamanya dimulai saat ia berumur 12 tahun. Tokoh "aku" ini tidak memiliki obsesi terhadap cinta dan pernikahan. "Seks adalah pelipur lara untuk orang yang tidak punya cinta". Narator dalam novel tersebut kemudian menghubungi  mucikari langganannya bernama Rosa Cabarcas untuk disiapkan seorang pelacur usia 14 tahun yang masih perawan. Ia datang saat pelacur tanpa nama—yang kemudian diberi nama Delgadina oleh tokoh "aku" yang tengah tertidur. Sang tokoh memperhatikan seluruh detail dari Delgadina dan jatuh cinta pada sosok yang sedang tertidur itu. Ia pun datang berkali-kali ke tempat Rosa Cabarcas, menemui Delgadina, dan melewati malam bersamanya yang sedang tertidur. Salah satu klimaks disisipkan dalam sebuah kejadian di mana terjadi sebuah pembunuhan di tempat pelacuran Rosa Cabarcas, kemudian tokoh "aku" sulit menghubungi Rosa Cabarcas untuk mengetahui kabar Delgadina karena tempat tersebut ditutup oleh dinas kesehatan. "aku" kemudian mengamati para perempuan yang lewat di lingkungan tersebut sambil menebak-nebak rupa Delgadina jika berada di dalam posisi terjaga. Bahkan tokoh "aku" digambarkan takut jika melihat Delgadina selain dalam keadaan tertidur. Kejeneniusan Gabo terletak pada letak tokoh dari Delgadina yang ditempatkan pada posisi yang pasif, namun menggingit. Rasanya seperti jatuh cinta pada imajinasi yang diciptakan sendiri. Bahkan di awal-awal cerita, tokoh "aku" berkata bahwa bayangan Delgadina begitu jelas sehingga ia bisa mengubah Delgadina seperti yang ia mau di dalam pikirannya.
Novel yang sangat minim dialog. Jika pun ada, ia akan berasosiasi menjadi teks-teks naratif. Dan itu punya cukup pengaruh terhadap pembaca-pembaca lugu. Seperti jika membaca kudapan teks yang menutup esai ini. Aku terjaga saat dini hari, tidak ingat tempatku berada. Kau masih tidur seperti dalam rahim, punggungmu menghadap ke arahku. Samar-samar kurasakan ia bangkit dari kegelapan dan mendengar bunyi air yang mengalir ke kamar mandi, tapi mungkin saja itu hanya mimpi. Ini benar-benar baru bagiku. Aku lugu dalam seni membaca ,merayu dan selalu memilih pengantin satu malamku dengan acak, lebih dari harga ketimbang pesonanya. Kami bercinta tanpa cinta.

(Makassar 2017)


(*)

Terbit di harian FAJAR Makassar edisi Minggu, 02 Juli 2017 


Share:

Rabu, 05 Oktober 2016

Pernyataan Kepada Ingatan



Sejak selesai membaca karya yang sebelumnya naik daun, saya percaya diri dengan luapan dan hasil dari letupan-letupan kecil perasaan saya, bahwa buku yang nantinya ini akan bisa jadi jauh lebih baik, dan punya tempat sendiri di ingatan pembaca. Khususnya mereka yang menyukai genre history of romance atau mungkin lebih tepatnya realistic fiction dengan balutan budaya serta latar belakang adat istiadat. Ketika mendapati dan tentu mendengar dengan sengaja beberapa informasi seputar penyelesaian novel berjudul Pertanyaan Kepada Kenangan ini, entah membaca beberapa sumber atau mendengarnya langsung dari penulisnya, hal pertama yang hendak saya sembunyikan adalah perasaan takjub. Bahkan tidak percaya. Ada apa dengan kepercayaan saya terhadap kemampuan seseorang, khususnya penulis? 
Tentu seperti ini, akan muncul pertanyaan bodoh yang bisa saja beralasan sebagai asumsi awal saya untuk menilai sebuah karya, terlepas saya menikmatinya atau tidak. Hal itu bisa jadi adalah bagaimana kemampuan seorang penulis hebat bercerita dengan lisannya, sebelum tentunya mempertaruhkannya pada tulisan. Ini penting, tetapi juga kadangkala tidak terlalu menarik untuk diketahui oleh banyak penikmat sastra di luar sana. Saya meyakini bahwa banyak pembaca yang sedikit tahu latar belakang penulisnya. Tentu akan muncul hal seperti ini—bagaimana atau sejauh mana efek dari bacaan itu mampu memberikan sesuatu, atau minimal mengubah satu pandangan tertentu menjadi pemandangan yang jauh lebih luas. Dan ini baru minimal!
Pertanyaan kepada kenangan mengindikasikan satu jawaban yang buram. Selain dirasa berbeda untuk setiap perasaan yang akan menjawabnya. Mereka akan menyajikan suatu fenomena tersendiri terhadap pernyataan untuk sebuah ingatan yang patut ia katakan kenangan. Kedengarannya sudah rumit, bukan?
Hal pertama yang tentu jelas adalah kerumitan yang luar biasa, utamanya ketika berada di luar hal yang dianggap bisa. Atau diperhadapkan oleh dua hal yang memiliki dampak yang bernilai dan terasa sama. Ia yang pernah ada menyisakan penyesalan, atau ia yang memberi janji tapi melukai lalu mencoba untuk kembali ada. Rinai Rindu adalah nama salah satu tokoh perempuan yang menjadi objek ’aku’ dalam penceritaan sang narator, serta dua laki-laki yang memiliki perbedaan yang jauh, tapi terasa dekat menyentuh perasaan Rinai. Apalagi dalam memperlakukan kenangan—Wanua Maraja dan Lamba Dondi punya cara masing-masing untuk menegaskan satu jawaban yang sejatinya telah dijawab sendiri oleh Rinai. Sebelum Rinai menyatakan jawabannya yang betul-betul. Sebagai contohnya mungkin, refleksi akan tibanya satu pelukan utuh yang sama sekali tak berasalan.
Rindu tidak hanya menjadi pengungkap atas pertanyaan-pertanyaan keduanya dalam bentuk yang sebenarnya telah berwujud jawaban. Namun, untuk menjawabnya, ia tentu harus meyakinkan diri terlebih dahulu dengan mempertimbangkan yang pernah ia alami sebelumnya, sebelum mengunci sendiri jawabannya, kemudian menyatakannya langsung kepada kedua laki-laki itu. Saya tentu berharap, seorang Lamba yang sejatinya menaruh dalam-dalam adat dalam dirinya dengan keyakinan sebagai orang Toraja yang berbakti mampu membuktikan keyakinannya itu dengan tidak membuat Rinai berpikir berkali-kali untuk kembali ke pelukannya, hingga pada akhirnya—Wanua dengan percaya diri menyatakan perasaannya yang sebenarnya. Apakah perasaan itu adalah wujud lain dari kebahagiaan yang masih balita?
Bagaimana dengan Wanua Maraja? Setelah menyatakan semuanya. Seorang lelaki bugis yang memiliki kesan sederhana dan mampu menaruh janji di tempat yang tepat—di dalam dirinya yang jauh. Buktinya, perasaan itu tidak sempat dilirik oleh Lamba. Berdasarkan pengamatan saya sebagai pembaca, Lamba ataupun Wanua seraya memiliki kesamaan tentang ‘keyakinan’ untuk mengatakan dirinya ‘mencintai’ Rinai. Namun dengan jalan dan niat yang berbeda, tidak dapat jauh dari adat yang melekat untuk karakter masing-masing. Toraja dan Bugis.  
Ada sebuah pernyataan kepada ingatan. Bahwa kehilangan pernah membuat Rinai meyakini bahwa manusia sejatinya tidak pernah memiliki apapun, bahkan yang ia yakini sebagai perasaan. Kenyataan menuntut kita bersetuju dengan keadaan, bahwa harapan itu ternyata selalu ada di setiap pilihan yang sulit. Selain pilihan yang lain hanya perlu berakhir sebagai sebuah kenangan yang memerlukan ingatan untuk meyakininya. Tapi kadangkala, hati dan ingatan selalu tak sejalan.
**
Dengan ini, saya tidak ingin menulis terlalu jauh dan dalam soal “Pertanyaan Kepada Kenangan”. Namun justru saya ingin bertanya kepada siapa pun yang sudah membaca buku ini—atau buku kenangan apapun itu, sebelum saya bertanya kepada bagian diri saya yang membaca buku salah satu teman ini.
Kenangan apa yang pantas dipertanyakan?
Jika punya jawaban, atau apapun itu yang dianggap mewakili perasaan—juga kenangannya, marilah kita berdiskusi dibalik tulisan ini sebelum ia menegaskan diri, kemudian meyakinkan pembaca bahwa ia telah berakhir.

(*)
Dimuat di koran Fajar edisi Minggu 02 Oktober 2016

Share:

Minggu, 18 September 2016

Awan Luka dan Tubuh Kota


Soal rasa. Soal perasaan laki-laki yang senantiasa bersedih. Perspektif dari sudut pandangnya selalu akan kuat menghadapi kesedihan itu di tengah-tengah gembar-gembor maskulinitas, apalagi mengingat puisi tidak selalu menyediakan lahan untuk bercengeng ria, khususnya untuk laki-laki. Ada daya tersendiri ketika menikmati puisi, cobalah kita lihat mereka-mereka yang terkadang melankolis ketika menyanyikan sebuah puisi. Secara lirik, tergolong super sedih, kacau, tak berontak, hangat dalam emosi dan tentunya romantis mengundang lara (ini buat yang mempertunjukannya). Bagaimana dengan yang menulisnya? Maksudnya, laki-laki—dan dimaknai pula oleh kaum sebayanya.

Mengenai beban. Beban yang dipikul ketika hendak menulis puisi—atau menikmatinya. Saya teringat salah satu penyair, Rainer Maria Rilke—penyair Austria-Swiss yang meninggal pada 29 Desember 1926, secara tidak langsung mengatakan bahwa cita rasa karya seni (dalam hal ini puisi) tidak boleh dibebani oleh apapun selain perasaan pembuatnya (ia mengatakan itu dalam surat-suratnya kepada Franz Kappus pada buku Letters to a Young Poet), sebab jika ada beban, namanya bukan cita rasa lagi.

Bukankah seni melulu soal rasa?
Minggu ini, setelah bertemu seorang perempuan bernama Zaa—saya bersedih karena saat itu kami sedang diperjalanan pulang dari sebuah kegiatan kampus di salah satu kota kalong. Saya mabuk darat. Dan satu-satunya cara agar ia tidak menguasai isi perut hingga keluar dengan tidak hormat di hadapan adik-adik dan teman-teman mahasiswa adalah dengan memulai perbincangan bersamanya dengan rencana yang amat-amat garing. Hingga pada akhirnya kami dipertemukan dengan lupa cara melupakan waktu, dan sesekali menyalakan waktu. Kebiasaan saya menulis puisi kembali terwujud. Meskipun puisi ini tidak murni dari dia—namun kekuatan sebuah pertemuan masih menyatakan dirinya dengan satu kebiasaan kecil. Ketika puisimu kembali diterbitkan di kolom yang pernah menerbitkan bentuk lain dari perasaanmu. Tentu kau akan menganggap bahwa keberhasilan ini ada karena kau sebelumnya tak ada.

Berikut dua puisi yang saya tulis ketika menikmati tekanan, sembari bersantai di kedai kopi langganan.

Awan Luka
Langit dan matahari pengganti kota dan jalan
Sekejap mata, angin membangunkan letih rambut.
Harapan terjal dilalui tanpa sedikit pun bermimpi,
memetik awan, dan membawanya ke tanah
agar kau tak pernah bodoh bertanya, hujan dari mana,
agar hujan tak selamanya berasal dari atas
meyakinkan hatimu yang gersang
bahwa di atas sana, ada kehilangan yang terus terulang.
Gunung dan langit, bertemu karena ia tak pernah ingkar
Kepada awan yang sebentar lagi menjadi menantu
Bagi tanah dan pohon-pohon, serta matamu yang kering
saat kita berjalan, mendaki tidur dan puncak mimpi.
Langit dan matahari menyuruh kami bersatu, tapi sekali lagi
Angin puncak membangunkan keragu-raguan yang terkulai,
Di antara bayang-bayang bertemu dan bersemu.

(2016)


Tubuh Kota
Bunga layu di malam pertama
Kau sayu di atas pangkuan purnama
“Kita akan pulang,” katamu. Aku pulang ke mana?
Tak ada tujuan yang menanti kepulanganku
Olehnya itu, kota kau geser ke pangkuanmu

Kota itu hujan, dan kau meregang
Perasaanku kalut, kulitku terselimut kabut tegang
Aku menjadi taman untuk matamu yang layu,
Kau menjanji teman untuk kataku yang sayu.
Olehnya itu, kau pindahkan kota diantara dua (bukit) rongga dadamu.

(2016) 
Share:

Sabtu, 13 Agustus 2016

Tak Sekadar Rindu yang Membawa Semuanya Kembali


Saya amat tidak percaya, demi apapun—bahkan demi cinta yang pernah meyakinkan diri saya, katanya rindu selalu mampu menciptakan hujan buatan tanpa tanda-tanda yang meyakinkan. Anggapan seperti langit gelap, gemuruh di atas langit atau apapun itu, tak perlu meyakinkan perasaan siapapun. Hujan yang diyakini mampu menggenangi tidak hanya sebuah titik kerendahan, dataran yang paling tinggi pun seyongyanya tergenangi olehnya, atas kepergian yang nyata dan delusi cinta yang menciptakan alusi yang berbeda—menunggu ketetapan serta ketepatan waktu untuk tiba. Ya, selalu saja begitu, kebanyakan dari kita yang pernah merasa ditinggal pergi oleh yang pernah ada kian memudarkan kedatangannya. Mungkin maksudnya begini, tak ada yang betul-betul ingin merasakan rindu yang disengaja, tidak ada perasaan cinta yang benar-benar tahu ke mana arah langkah selanjutnya ketika kesedihan, kekecewaan, hingga putus asa mulai menandamatai kesedihan. Atau seperti ini, tak ada yang mungkin tahu seberapa kuat kekuatan rindu yang dimiliki untuk mengembalikan sesuatu yang pernah merasa saling memiliki. Padahal, ada satu hal yang secara jelas mengundang semuanya—bahkan kenangan yang tak pernah diakui oleh pemiliknya. Ya percayalah, bukan sekedar rindu yang membawa kita pulang, sebab luka juga adalah jalan pulang itu sendiri.

Sebagai pembaca, awalnya saya mengetahui buku rain and tears itu dari suara-suara lamban di kampus. Suara-suara yang menolak untuk kita dengar sebenarnya. Sudah tidak dapat dipungkiri lagi, misalnya bahwa buku dan kampus seraya pipi dan lesung pipit—jika tersenyum, wajah yang ditinggalinya itu seperti ibarat perpustakaan dengan buku-buku bagus dan pembaca yang menyukainya—serta pelayanannya yang baik, termasuk laki-laki yang berambut panjang. Tidak ada senyum yang menolak hadirnya lesung pipit, bukan? Atau seperti senyum dengan gigi yang berginsul, aduh. Apalagi berkuliah di fakultas sastra, tidak mau ataupun tidak, kata bukulah yang selalu terdengar dan didengar, setelah diskusi, musik, cinta, kesedihan hingga keresahan.

Sewaktu masih membaca bukunya, jadi saya mencoba jujur terhadap diri sendiri tentang cinta, selain buku ini adalah buah kepercayaan, kasarnya sebagai pinjaman dari seorang teman. Seperti mendengar seorang teman yang curhat, di lembar pertama novel tersebut sudah jelas, sang penulis mendeklarasikan diri sebagai seorang narrator yang cukup dewasa dengan kisah percintaannya yang remaja. Saya tidak terlalu paham tentang remaja, walau pada hakikatnya, sebelum membaca novelnya atau menulis ini, saya mengalami dunia remaja itu sendiri—dan sepenuhnya, saya tidak menyadarinya dengan jujur. Bahkan ketika perasaan menyukai telah melepaskan alur-plotnya begitu saja. Tanpa prolog sama sekali.

Sejak mulai menyukai buku-buku bernuansa romance atau yang lebih tepatnya bergenre teenlit seyongyanya adalah bukti tentang masa yang kembali yang belum menemukan waktu kapan berhenti—minimal berganti. Tak ada yang betul-betul tahu hal apa yang pernah kita benar-benar miliki, lalu betul-betul menghilang kemudian kembali dengan sebutan yang baru. Jelas bahwa orang-orang kita selalu menjahati kehilangan, paling tidak tak ingin mendapatinya. Mungkin diantara kita, ada yang berteman dengan kehilangan—mirip seperti judul buku Sinta Ridwan, berteman dengan kematian. Ya, mungkin saja kedua hal ini sama namun kebanyakan orang menganggapnya cukup berbeda. Saling bertemu akan berimplikasi kepada kehilangan, entah siapa diantara masing-masing yang merasakannya. Serta kematian adalah akhir dari kehidupan yang terlalu nyata. Persamaannya, kematian dan kehilangan menyisakan rindu yang sama. Hanya jalan menujunya yang sudah tentu berbeda.

Salah satu kebiasaan saya adalah membicarakan buku, namun dari sisi luarnya. Istilahnya dalam ilmu sastra disebut ekstrinsik. Seperti misalnya berbicara tentang latar belakang penciptaannya dan kondisi sosial pada saat karya itu ditulis. Ini penting, apalah arti dari isi suatu buku jika unsur-unsur penciptaannya tak pernah ingin kita ketahui, minimal mengerti. Ini sama seperti rindu dan luka, tetap berbicara perasaan, namun diluar keduanya, demi menjaga semuanya yang dianggap masih belum dewasa. Tentu ini adalah bentuk apresiasi yang lebih jauh dan tentu yang terpenting tidak mempermainkan perasaannya.         

Mulanya membuat saya berpikir bahwa kisah ini diambil dari kisah nyata seorang teman saya, Faisal Oddang. ditambah nama tokoh utama yang mengingatkan pada nama penulis sendiri, Bahkan tertulis jelas banyak deskripsi dan narasi yang menyiratkan serta berkonotasi kepada hal yang berangkat dari alasan pengalaman pribadi, minat dalam dunia sastra, tokoh panutan yang sesuai dengan biodata penulis. Dampaknya, di awal hingga pertengahan cerita, saya sempat menemui musuh bernama dan terasa bosan, karena menganggap kisah ini mirip dari kebanyakan cerita cinta ala remaja. Tapi kembali lagi ke paragrap sebelumnya, saya tak terlalu paham dengan remaja. Ini anggapan dan asumsi, anggapan bahwa ini adalah jalan yang pernah saya gagal buat, dulu. Serta asumsi yang sementara saya bangun dengan materil yang belum lengkap. Serayanya sama seperti ini—sebelum menyelesaikan semuanya.

Alur-plot cerita pun agak lambat bagi saya hingga mulai nampak konflik utama yang benar-benar menyulut emosi. Namun, penantian saya akhirnya tertebus di bagian menuju penghujung kisah dan asumsi itu musnah sudah. Di banyak bagian, penulis memang mengambil karakter pribadinya, namun kisah ini telah dibumbui penyedap fiksi yang nyata dan akhirnya pun tak terduga. Kembalilah saya mengingat yang pernah Faisal sampaikan kepada saya sewaktu di sebuah forum diskusi, tentang usaha untuk menciptakan sebuah twist diakhir sebuah prosa. Mungkin buku inilah menjadi jawaban dari pertanyaan saya semenjak diskusi itu berakhir dengan banyak kemacetan dan lampu merah yang tetap menyala-nyala di kepala saya. 

“Aku selalu ingat kamu mengibaratkan cinta sebagai bunga mawar... Bunga yang tumbuh di tubuh tangkainya adalah cinta. Ketika hendak kamu petiki ia, itulah nafsu. Lantas bunga dalam genggammu—dalam genggam nafsu, membiarkan waktu tanggal begitu cepat. Layulah ia. Layulah cinta...  Kamu tidak boleh memetik bunga. Bunga mawar. Sebab pada waktunya, ia kan gugur juga. Di sanalah cinta telah berhasil menuntun dirinya. Di waktu nafsu telah sah. Setelah menikah.”

Dan Saya amat percaya, demi apapun—bahkan demi hujan dan air mata yang tidak lagi pernah meyakinkan diri saya, tentang filosofis mawar dengan kaitan cinta dari kedua tokoh utama di dalam buku rain and tears.


(*)
*Pertama kali dimuat di Fajar Makassar edisi Minggu 10 April 2016
Share:

Mengatai Kota dengan Kacamata Kata



Satu

Orang-orang ada untuk keadaan orang lain yang pura-pura, mereka menutup mata dan hanya bermain mata dengan kata-kata buta, tak ada rupa dan lupa bahwa perhatian hanya untuk manusia-manusia yang mendekati sempurna. Tak ada lagi penghargaan sesama, penghargaan hanya sebatas menghargai perbedaan saja, pun secara terpaksa dan dipaksa. Kota ini disulap hingga dipaksa menyamai surga, tapi yang terasa justru sebaliknya. Kejahatan di mana-mana, di setiap sudut jalan ramai hingga legang dengan orang-orangnya berjalan kaki, menikmati udara lembut sapuan pohon-pohon buatan. Manusia-manusia lebih suka bernafas dalam mobil, bepergian ke tempat-tempat hiburan gelap dan melupakan terang. Dunia ini sudah sepantasnya lelah dan meminta ditinggalkan.
Dua
Jalan untuk orang-orang dan kakinya sudah dilupakan. Menikmati hujan tidak lagi dengan payung, namun jas yang menutupi seluruh tubuh, menegaskan bahwa hujan sangatlah berbahaya. Dibanding dengan kata-kata, kejahatan akibat melupakan adalah kesendirian dalam hati dan diri sendiri. Mata untuk menatap hingga menetap jauh dalam mata kekasih hanya sia-sia, di matamu aku pernah melihat seseorang yang lain melihatku menatapnya. Aku tahu, dalam dirimu masih ada diriku. Namun, aku tidak tahu dalam matamu, entah siapa.
Tiga
Kacamata tak lagi memperjalas kota. Ia berubah menjadi katamata, kata dalam mata. Mulut orang saling mengumpat tanpa malu, memakan lidah dan menggigit gigi orang-orang terdekat. Lalu memberi makan orang-orang yang jauh hanya untuk melihat penderitaan terpinggirkan oleh uang dan kedudukan. Sementara, anak-anak lahir dari rahim yang entah dari mana dan milik laki-laki siapa. Selain es krim, kelamin adalah sarana dan wahana bermain untuk lidah dan mulut yang masih kanak-kanak. Kau adalah perempuan dewasa yang meniru anak-anak.
Empat
Di rumah, sekolah, pasar dan kantor polisi adalah penjara akal, kebebasan, kejujuran dan cinta. Orang-orang hidup hanya untuk saling mematikan, menyembuhkan hanya sebatas merawat diri dari kematian yang sebentar lagi memarahiku mengobatimu. Kita hanya gerombolan manusia-manusia dungu pesuruh kebodohan yang mencari kampus untuk sarjana.
2016

(*)
*Pertama kali dimuat di koran Fajar Makassar, edisi Minggu 7 Februari 2016
Share:

Selasa, 14 Juni 2016

Melawan rahasia, mengalah atau mengalahkannya



Buku kedua dari penyair kelahiran Solo ini sebenarnya telah tandas saya baca beberapa bulan lalu. Buku tipis yang hampir saya bawah ke mana-mana, setiap membawa tas. Terakhir saya membawanya ikut bertamasya di salah satu pantai berpasir putih terkenal di Sulawesi. Kesempatan bertemu dengan buku ini sebenarnya tak terlalu layak untuk saya catat pada catatan ini. Alumni fakultas ekonomi Universitas Dipoenegoro ini faktanya lebih menyukai dan memilih mendekatkan dirinya ke dalam pusaran buku-buku sastra (dibanding buku-buku ekonomi), termasuk puisi. “puisi merupakan medium paling cair untuk mengungkap sesuatu” katanya

Sebelumnya, bukumpulan puisi “Pelesir Mimpi” menjadi karya yang membawanya meraih nominasi Khatulistiwa Award (kusalah sastra khatulistiwa). Dan masih banyak lagi, beberapa puisinya bisa dengan mudah ditemukan di beberapa tempat, seperti Koran, majalah, antologi serta ketika jari-jari kalian mengetik namanya di mesin pencarian (google) alam semesta. Pertama kali menemukan wajahnya, “Di Hadapan Rahasia” saya langsung teringat beberapa catatan singkat salah satu kawan—ia juga menyukai puisi (dan saya yakin ia menyukai karya-karya Adimas). Isi dompet saya memutuskan menebusnya dengan harga yang menurutnya mahal. Penjaga kasir di toko buku sedikit heran, dan tentunya tanpa tanda-tanda memotivasi keraguan saya yang sempat datang, agar mungkin wajah saya tak seperti kekurangan uang ketika diperhadapkan dengan buku yang membuat saya mengalah. Saya memilih tak kalah dengan itu—entah saya tak sempat memenuhi kecenderungan manusia untuk makan tiga kali sehari.

Jika puisi adalah lava of imagination bagi Byron, maka bagi saya sendiri setelah membacanya—kepalaku lumpuh, dan berubah menjadi yakni lost my imagination. Imaji yang sedang lapar, menanti sepiring nasi dan beberapa lauk temannya. Efek karena puasa. Imajinasi seolah pergi begitu saja, entah dengan sayap yang ia sengaja. Entah ia pergi mencari nasi di mana, di rumah siapa yang hendak menyatukannya lagi. Adimas sukses membuat pembacanya mencintai dengan paradoksme perasaan berbeda ketika mencintai seseorang. Ia penyair muda yang apik. Jika menyimak judul-judulnya dengan baik, maka hal yang biasa diruntuhkan dengan pemilihan kata yang terasa kental dengan diksional yang tak kenal kecenderungan, apalagi bendungan yang sengaja dibuat menahan kecenderungan anal atau alam.  Saya pikir, Di Hadapan Rahasia bisa menjadi salah satu wajah belia perpuisian modern Indonesia. Yang hendak menemukan pendewasaan di tempat-tempat jauh. Dengan cara-cara yang jauh dari; seperti anak-anak membakar petasan, minum air es di siang hari dalam kamar mandi, hingga sabar menanti sahur—lalu tertidur, Adimas tidak hanya sekedar merangkai kata, lebih dari itu—ia mengjangkau kita. Menyentuh keseluruhan isi dalam kepala, tubuh dan masa lalu.

Hampir keseluruhan puisi di dalamnya adalah hasil interpretasi langsung dari beberapa lukisan. Kepekatan dan hal-hal yang dirasa dalam, membuat Adimas berfikir lebih keras dalam menentukan judul bukunya. Taswir merupakan judul awal yang dipilihnya, memang puisi-puisi di dalamnya terinspirasi dari banyak lukisan dan ingin mengalihwahanakan lukisan tersebut. Jika dibaca dengan cara yang sama ketika menyicip kopi yang pekat—rasanya puisi-puisi di buku ini jauh lebih 'pekat' daripada puisi di karya-karya sebelumnya. Saya juga merasa puisi-puisi di buku ini seperti menyeret orang ke suatu tempat yang di dalamnya ada sepasang kekasih yang saling menikam rasa serta dalam suasana yang lain, menebar lembar-lembar perasaan kosong ke tengah mereka. Seolah ingin menyampaikan sesuatu tapi tidak cukup ingin menyatakannya dengan jelas. Puisi-puisi di buku ini pun berjarak, seperti cara manusia menghadapi rahasianya sendiri. Mencerminkan jarak orang lain di mata rahasia, tak terkecuali di dalam mata saya.

Satu hal, jika pembaca mengalah dengan banyak hal di atas—maka mata rahasia enggan menyimak kau dari jauh dan menutup matanya dalam-dalam. Kebalikannya, jika kita mengalahkannya, maka akan kau temukan (termasuk saya) rahasia di depan mata sendiri. Yang sedang sendiri menanti janji-janji untuk tidak menyatakannya dengan jelas. Atau berefek pada rak bukumu di rumah akan bertambah sempit, dengan satu tuntutan untuk menyelesaikan buku yang lain semakin deras mengalir menuju ingatan tentang isi dompet yang telah kosong.

(*)
Terbit di kolom Budaya Fajar Edisi Minggu, 07 Agustus 2016
Share: