: Nurul Hidayah Aris
Kami bukan suara peringatan
untuk memanjakan langkahmu menuju pemakaman,
bukan penggalan tulisan, yang asyik kau ukir sebagai mantan.
ini hanya bunyi, tanpa kedua telinga itu--kau paham kan?
sekedar berusaha menemanimu, atau menjaga nisanmu
dengan pelukan, tanpa kau elu-elukan
Selamat merayakan penggalan ini—mengingatkan kau
tentang tangisan pertamamu. Entah kau telah berada di angka
keberapa, dan ingin berhenti di- yang keberapa.
Berbahagialah di bawah pohon kesedihan, tanpa lupa pada daun
dan batang yang melindungimu.
(Makassar 2015)