Selasa, 05 Januari 2016

Melihat Api Bekerja dalam Puisi M. Aan Mansyur

Telanjang di depan cermin 
Sebelum aku membaca isi dari puisi ini, alasan pertama yang membuat saya begitu tertarik adalah ilustrasinya yang begitu di luar dugaan. Seorang perempuan yang telanjang di depan cermin—mungkin cermin yang di maksud dalam puisi ini adalah mata orang-orang yang memperhatikan tingkah laku kita, entah kita sadar atau tidak. Puisi ini sangat jelas menyinggung banyak orang, utamanya mereka yang lupa cara menempatkan diri dan perilaku di tempat yang semestinya. Hal yang semestinya intim, justru disebarkan dengan mudahnya dan hal yang justru penting untuk diketahui banyak orang justru disembunyikan seperti melempar jarum ke tumpukan jerami. Saya tidak begitu merasakannya secara pribadi, aku hanya melihat hal yang tersirat dalam puisi ini dengan apa yang terlihat jelas di dunia saat ini. Mungkin kau bisa melihat dan merasakannya lebih dari perasaanku kepada mantan kekasih yang tidak sempat dimiliki. Jika ditanya alasannya mengapa memilih puisi ini alasannya sederhana, saya menyukai ilustrasi dan penulisnya.

Menyeberang Jembatan
Terlepas dari judul judul puisi ini yang dibahas oleh Sapardi di bagian prolog, aku memang selalu menyukai hal-hal tentang jembatan. Tentu, terlepas dari fungsinya sebagai penyambung dan menyatukan antara dua daratan yang sebelumnya berpisah. Begitu romantis bukan? Saya merasa dalam puisi ini melukiskan suatu kisah yang masih penuh dengan tanda-tanya. Tentang sesuatu yang pergi dengan alasan yang sama saat ia kembali, tentu dengan jembatan yang dimaksud sebagai penyatu antara dua hal yang sebelumnya dipisahkan. Entah karena apa. Saya merasakan sedikit berbeda yang dirasakan Sapardi Djoko Darmono dalam prolognya. Mungkin ini karena perbedaan jangkauan rasa—nalar yang tentu jauh. Aku merasakan sesuatu yang jauh terasa dekat! 

Di bagian ini saya harus jujur, beberapa hari yang lalu, perempuan yang kucinta bertanya perihal beberapa isi dari puisi ini. Ia mengatakan bahwa puisi-puisi ini lahir karena kebohongan atas sesuatu hal yang jelas. Aku membenarkan dan menambahkan bahwa selain kebohongan, penulis sendiri menulis puisi ini sebagai kemuakan akan perkotaan dan modernitas yang sudah terlampau membakar dirinya sendiri—sama seperti judulnya, Melihat Api Bekerja. Dan aku langsung menyebut judul ini untuk dia baca berulang-ulang, setelah dia membacanya, ia tahu dirinya sedang merindukan Ibunya. Selamat menemani rindu!

Menikmati Akhir Pekan
Inilah puisi yang paling sering aku dengarkan ketika mengunjungi atau ikut di beberapa kegiatan malam puisi atau pembacaan puisi. Judulnya begitu sangat sederhana, namun isinya amatlah rumit untuk dua jenis manusia modern; bahagia dan patah hati. Saya merasakan hal yang begitu nyata ketika membaca puisi ini, bahkan saya telah memahmi dan sulit untuk melupakan kata perkatanya. Orang-orang bahagia dan patah hati adalah dua kutup yang berlainan. Jika ditanya tentang perasaan, aku belum berani sepenuhnya menjawab ini secara lebih jelas dan terbuka. Aku takut ketika lupa menutupnya. Puisi ini merekamkan sebuah kejadian tentang ilusi-ilusi yang telah terjadi, menukar kedudukan idealitas dan realitas menjadi absurditas. Sebenarnya aku tidak mengerti dengan perasaanku sendiri. Alasan saya cukup singkat. Saya sepakat dengan perasaan penulisnya, tapi saya sedikit ragu dengan pikiran mereka yang sedang berbahagia atau patah hati. Menurutku, kedua kata ini bisa dijelaskan dengan kata-kata selain air mata.


Share: