Telanjang di depan cermin
Sebelum aku membaca isi
dari puisi ini, alasan pertama yang membuat saya begitu tertarik adalah
ilustrasinya yang begitu di luar dugaan. Seorang perempuan yang telanjang di
depan cermin—mungkin cermin yang di maksud dalam puisi ini adalah mata
orang-orang yang memperhatikan tingkah laku kita, entah kita sadar atau tidak.
Puisi ini sangat jelas menyinggung banyak orang, utamanya mereka yang lupa cara
menempatkan diri dan perilaku di tempat yang semestinya. Hal yang semestinya
intim, justru disebarkan dengan mudahnya dan hal yang justru penting untuk
diketahui banyak orang justru disembunyikan seperti melempar jarum ke tumpukan
jerami. Saya tidak begitu
merasakannya secara pribadi, aku hanya melihat hal yang tersirat dalam puisi
ini dengan apa yang terlihat jelas di dunia saat ini. Mungkin kau bisa melihat
dan merasakannya lebih dari perasaanku kepada mantan kekasih yang tidak sempat
dimiliki. Jika ditanya alasannya
mengapa memilih puisi ini alasannya sederhana, saya menyukai ilustrasi dan
penulisnya.
Menyeberang Jembatan
Terlepas dari judul judul puisi ini yang dibahas oleh Sapardi di
bagian prolog, aku memang selalu menyukai hal-hal tentang jembatan. Tentu,
terlepas dari fungsinya sebagai penyambung dan menyatukan antara dua daratan
yang sebelumnya berpisah. Begitu romantis bukan? Saya merasa dalam puisi ini melukiskan suatu kisah yang masih penuh
dengan tanda-tanya. Tentang sesuatu yang pergi dengan alasan yang sama saat ia
kembali, tentu dengan jembatan yang dimaksud sebagai penyatu antara dua hal
yang sebelumnya dipisahkan. Entah karena apa. Saya merasakan sedikit berbeda yang dirasakan Sapardi Djoko
Darmono dalam prolognya. Mungkin ini karena perbedaan jangkauan rasa—nalar yang
tentu jauh. Aku merasakan sesuatu yang jauh terasa dekat!
Di bagian ini saya harus
jujur, beberapa hari yang lalu, perempuan yang kucinta bertanya perihal
beberapa isi dari puisi ini. Ia mengatakan bahwa puisi-puisi ini lahir karena
kebohongan atas sesuatu hal yang jelas. Aku membenarkan dan menambahkan bahwa
selain kebohongan, penulis sendiri menulis puisi ini sebagai kemuakan akan
perkotaan dan modernitas yang sudah terlampau membakar dirinya sendiri—sama
seperti judulnya, Melihat Api Bekerja. Dan aku langsung menyebut judul ini
untuk dia baca berulang-ulang, setelah dia membacanya, ia tahu dirinya sedang
merindukan Ibunya. Selamat menemani rindu!
Menikmati Akhir Pekan
Inilah puisi yang paling
sering aku dengarkan ketika mengunjungi atau ikut di beberapa kegiatan malam
puisi atau pembacaan puisi. Judulnya begitu sangat sederhana, namun isinya
amatlah rumit untuk dua jenis manusia modern; bahagia dan patah hati. Saya merasakan hal
yang begitu nyata ketika membaca puisi ini, bahkan saya telah memahmi dan
sulit untuk melupakan kata perkatanya. Orang-orang bahagia dan patah hati
adalah dua kutup yang berlainan. Jika ditanya tentang
perasaan, aku belum berani sepenuhnya menjawab ini secara lebih jelas dan
terbuka. Aku takut ketika lupa menutupnya. Puisi ini merekamkan sebuah kejadian
tentang ilusi-ilusi yang telah terjadi, menukar kedudukan idealitas dan
realitas menjadi absurditas. Sebenarnya aku tidak mengerti dengan perasaanku
sendiri. Alasan saya cukup singkat.
Saya sepakat dengan perasaan penulisnya, tapi saya sedikit ragu dengan pikiran
mereka yang sedang berbahagia atau patah hati. Menurutku, kedua kata ini bisa
dijelaskan dengan kata-kata selain air mata.